Saya sangat suka membaca buku. Bagi saya membaca
buku bagaikan menanam pohon. Hasil dari bacaan dapat menumbuh kembangkan
pengetahuan maupun keterampilan. Serta berbuah manis ketika kita dapat
mempraktikkan teori atau pelajaran yang tersimpan di dalamnya.
Membaca buku memberikan pengalaman batin, sekaligus
mengembangkan daya imajinasi untuk berpikir kreatif. Misalnya saja
ketika kita membaca buku panduan membuat kue, lalu mempraktikkannya. Disadari
atau tidak disadari, kemampuan kita dalam bidang membuat kue akan makin meningkat.
Bahkan timbul berbagai ide membuat beragam kue yang lebih unik dari
buku yang kita baca.
(Beberapa jenis buku panduan)
Keakraban dengan buku yang saya rasakan berawal dari
penanaman sadar membaca, baik itu berasal
dari keluarga maupun ketika saya bersekolah di tingkat Sekolah Dasar (SD).
Ketika saya bersekolah di SD, sekolah saya tidak
mempunyai perpustakaan. Namun, wali kelas saya saat itu rajin meminjamkan buku
secara bergiliran kepada semua siswanya. Penanaman
sadar membaca ini didukung sekali oleh kedua
orang tua saya di rumah. Dan hal inilah yang menumbuhkan minat membaca. Dan pada akhirnya
menghidupkan semangat membaca. Hingga kini, penanaman sadar membaca saya terapkan pada peserta didik di sekolah.
(Penanaman sadar membaca di sekolah.)
Sejatinya, penanaman sadar membaca buku harus dimulai
sejak dini. Bahkan, sejak belum mengenal bangku sekolah sekalipun. Tentunya, bacaan
anak harus disesuaikan dengan usia, minat, serta kemampuannya. Dan
hal ini terkait erat dengan pendidikan dalam lingkungan keluarga
serta daya beli buku. Bagi pembaca buku yang
saat ini memiliki kocek pas-pasan seperti saya, banyak pertimbangan ketika
hendak membeli buku.
Pertimbangan paling utama bagi saya saat ini ketika
membeli buku adalah, seberapa berguna buku dapat diaplikasikan untuk saya dan mengembangkan kemampuan peserta didik di sekolah saya.
Buku-buku aplikatif menjadi pertimbangan awal, kemudian harga buku, selanjutnya
isi buku, dan penulisnya.
Berada dalam lingkungan pendidikan anak-anak luar
biasa, membuat saya berpikir secara luas untuk membekali peserta didik di
lingkungan tempat saya mengajar dengan kemampuan wiraswasta sejak dini, selain membekali mereka dengan pendidikan agama. Maka,
buku panduan keterampilan atau hobi menjadi bidikan pertama agar dapat saya aplikasikan di sekolah sebagai bekal keterampilan bagi mereka.
(Memasak sebagai satu dari sekian bekal keterampilan untuk masa depan anak.)
Selain buku panduan keterampilan atau hobi, buku-buku yang tak kalah pentingnya yaitu; buku teks berupa
buku pelajaran, dan buku nonteks berupa buku pengayaan/buku bacaan (fiksi,
nonfiksi, faksi), buku panduan guru, buku referensi, buku kerja (LKS). Kemudian
menyusul buku-buku yang saya inginkan secara pribadi, buku-buku keagamaan sampai novel anak
hingga dewasa, dan .
Jika saya ditanya, apa sih masalah krusial dalam
dunia penerbitan buku di Indonesia? Organisasi yang membawahi penerbitan?
Penerbitan itu sendiri atau buku yang diterbitkan? Maka saya akan merujuk pada
buku yang terbit Mei 2012, karya Bambang Trim, berjudul: “Apa dan Bagaimana
Menerbitkan Buku: Sebuah Pengalaman Bersama Ikapi”, halaman 32.
... Jika mendasarkan
pada terminologi penerbitan, penerbit adalah sebuah profesi yang pekerjaannya
mengembangkan dan mengemas naskah (manuskrip) buku yang siap cetak. Keahlian
utama para penerbit adalah mengembangkan ide, naskah, hingga kemudian menjadi
sebuah buku yang layak baca. Berkaitan dengan hal ini Ikapi sendiri disebut
sebagai organisasi profesi, bukan organisasi penerbitan buku.
Berdasarkan keterangan di atas, sekaligus pengalaman
pribadi ketika membeli buku, menurut saya masalah krusial dalam dunia
penerbitan buku di Indonesia, yaitu penerbitan itu sendiri yang secara tidak
langsung tidak dapat dipisahkan dari penerbit, penulis, editorial, dan buku yang diterbitkan.
Suatu kali, saya melihat seorang penulis begitu
gencar mempromosikan novel karyanya. Bahkan ada beberapa endorsment dari beberapa pembacanya. Namun, setelah membeli dan
membacanya, saya benar-benar kecewa. Novel tersebut telah berhasil merusak mood membaca saya saat itu. Isi novel penulis tersebut menurut saya
sangat tidak bagus alias mengecewakan, kaidah kata dan kalimat berantakan,
bahkan banyak sekali kesalahan tanda baca. Benar-benar membuat saya merasa sakit mata sekaligus bingung, khawatirnya saya salah baca. :) Hingga membersit dalam benak saya
kata “kapok” membeli buku karya penulis tersebut.
Bagi saya secara pribadi, buku yang merusak mood membaca ini sudah mirip pencemaran
udara yang bisa mengotori hati untuk segan membeli buku karyanya, maupun buku
lain dari penerbit yang menerbitkan novelnya. Meski pada akhirnya, saya tersadar juga, tidak semua
buku terbitan dari penerbit tersebut memiliki karakter yang sama.
Bagaimanapun, penanaman sadar membaca yang telah
tumbuh dan berkembang kuat dalam kehidupan saya, menyadarkan saya bahwa tidak
ada yang sempurna. Buku hasil terbitan manapun, ketika diresensi selalu ada
kekurangan meski kekurangannya kecil sekali. Jadi, membaca buku bagi saya harus ditingkatkan, sebagai
sarana membekali diri, pengetahuan, dan keterampilan yang sebelumnya tidak dimiliki, dan berasal dari buku-buku yang berkualitas baik.
Tulisan ini
diikutsertakan dalam Parade Ngeblog IKAPI Jabar & Syaamil Quran
#PameranBukuBdg2014



