Tampilkan postingan dengan label lomba blogLomba Blog #PameranBukuBdg2014 bersama IKAPI Jabar dan Syaamil Quranlomba blog 2014lomba blog pameran buku bandung 2014lomba blog syaamil quranlomba blog syaamil tabz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lomba blogLomba Blog #PameranBukuBdg2014 bersama IKAPI Jabar dan Syaamil Quranlomba blog 2014lomba blog pameran buku bandung 2014lomba blog syaamil quranlomba blog syaamil tabz. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Agustus 2014

Penanaman Sadar Membaca


Saya sangat suka membaca buku. Bagi saya membaca buku bagaikan menanam pohon. Hasil dari bacaan dapat menumbuh kembangkan pengetahuan maupun keterampilan. Serta berbuah manis ketika kita dapat mempraktikkan teori atau pelajaran yang tersimpan di dalamnya.
Membaca buku memberikan pengalaman batin, sekaligus mengembangkan daya imajinasi untuk berpikir kreatif. Misalnya saja ketika kita membaca buku panduan membuat kue, lalu mempraktikkannya. Disadari atau tidak disadari, kemampuan kita dalam bidang membuat kue akan makin meningkat. Bahkan timbul berbagai ide membuat beragam kue yang lebih unik dari buku yang kita baca.
(Beberapa jenis buku panduan)
Keakraban dengan buku yang saya rasakan berawal dari penanaman sadar membaca, baik itu berasal dari keluarga maupun ketika saya bersekolah di tingkat Sekolah Dasar (SD). Ketika saya bersekolah di SD, sekolah saya tidak mempunyai perpustakaan. Namun, wali kelas saya saat itu rajin meminjamkan buku secara bergiliran kepada semua siswanya. Penanaman sadar membaca ini didukung sekali oleh kedua orang tua saya di rumah. Dan hal inilah yang menumbuhkan minat membaca. Dan pada akhirnya menghidupkan semangat membaca. Hingga kini, penanaman sadar membaca saya terapkan pada peserta didik di sekolah.
(Penanaman sadar membaca di sekolah.)
Sejatinya, penanaman sadar membaca buku harus dimulai sejak dini. Bahkan, sejak belum mengenal bangku sekolah sekalipun. Tentunya, bacaan anak harus disesuaikan dengan usia, minat, serta kemampuannya. Dan hal ini terkait erat dengan pendidikan dalam lingkungan keluarga serta daya beli buku. Bagi pembaca buku yang saat ini memiliki kocek pas-pasan seperti saya, banyak pertimbangan ketika hendak membeli buku.
Pertimbangan paling utama bagi saya saat ini ketika membeli buku adalah, seberapa berguna buku dapat diaplikasikan untuk saya dan mengembangkan kemampuan peserta didik di sekolah saya. Buku-buku aplikatif menjadi pertimbangan awal, kemudian harga buku, selanjutnya isi buku, dan penulisnya.
Berada dalam lingkungan pendidikan anak-anak luar biasa, membuat saya berpikir secara luas untuk membekali peserta didik di lingkungan tempat saya mengajar dengan kemampuan wiraswasta sejak dini, selain membekali mereka dengan pendidikan agama. Maka, buku panduan keterampilan atau hobi menjadi bidikan pertama agar dapat saya aplikasikan di sekolah sebagai bekal keterampilan bagi mereka.
(Memasak sebagai satu dari sekian bekal keterampilan untuk masa depan anak.)
 Selain buku panduan keterampilan atau hobi, buku-buku yang tak kalah pentingnya yaitu; buku teks berupa buku pelajaran, dan buku nonteks berupa buku pengayaan/buku bacaan (fiksi, nonfiksi, faksi), buku panduan guru, buku referensi, buku kerja (LKS). Kemudian menyusul buku-buku yang saya inginkan secara pribadi, buku-buku keagamaan sampai novel anak hingga dewasa, dan .
Jika saya ditanya, apa sih masalah krusial dalam dunia penerbitan buku di Indonesia? Organisasi yang membawahi penerbitan? Penerbitan itu sendiri atau buku yang diterbitkan? Maka saya akan merujuk pada buku yang terbit Mei 2012, karya Bambang Trim, berjudul: “Apa dan Bagaimana Menerbitkan Buku: Sebuah Pengalaman Bersama Ikapi”, halaman 32. 
... Jika mendasarkan pada terminologi penerbitan, penerbit adalah sebuah profesi yang pekerjaannya mengembangkan dan mengemas naskah (manuskrip) buku yang siap cetak. Keahlian utama para penerbit adalah mengembangkan ide, naskah, hingga kemudian menjadi sebuah buku yang layak baca. Berkaitan dengan hal ini Ikapi sendiri disebut sebagai organisasi profesi, bukan organisasi penerbitan buku.
Berdasarkan keterangan di atas, sekaligus pengalaman pribadi ketika membeli buku, menurut saya masalah krusial dalam dunia penerbitan buku di Indonesia, yaitu penerbitan itu sendiri yang secara tidak langsung tidak dapat dipisahkan dari penerbit, penulis, editorial, dan buku yang diterbitkan.
Suatu kali, saya melihat seorang penulis begitu gencar mempromosikan novel karyanya. Bahkan ada beberapa endorsment dari beberapa pembacanya. Namun, setelah membeli dan membacanya, saya benar-benar kecewa. Novel tersebut telah berhasil merusak mood membaca saya saat itu. Isi novel penulis tersebut menurut saya sangat tidak bagus alias mengecewakan, kaidah kata dan kalimat berantakan, bahkan banyak sekali kesalahan tanda baca. Benar-benar membuat saya merasa sakit mata sekaligus bingung, khawatirnya saya salah baca. :) Hingga membersit dalam benak saya kata “kapok” membeli buku karya penulis tersebut.
Bagi saya secara pribadi, buku yang merusak mood membaca ini sudah mirip pencemaran udara yang bisa mengotori hati untuk segan membeli buku karyanya, maupun buku lain dari penerbit yang menerbitkan novelnya. Meski pada akhirnya, saya tersadar juga, tidak semua buku terbitan dari penerbit tersebut memiliki karakter yang sama.
Bagaimanapun, penanaman sadar membaca yang telah tumbuh dan berkembang kuat dalam kehidupan saya, menyadarkan saya bahwa tidak ada yang sempurna. Buku hasil terbitan manapun, ketika diresensi selalu ada kekurangan meski kekurangannya kecil sekali. Jadi, membaca buku bagi saya harus ditingkatkan, sebagai sarana membekali diri, pengetahuan, dan keterampilan yang sebelumnya tidak dimiliki, dan berasal dari buku-buku yang berkualitas baik.
 
Tulisan ini diikutsertakan dalam Parade Ngeblog IKAPI Jabar & Syaamil Quran #PameranBukuBdg2014


Kamis, 28 Agustus 2014

Satu Sentuhan Jari, Jutaan Pengetahuan


Disadari maupun tidak disadari, era digital seperti sekarang membawa ke arah persaingan yang sangat ketat. Persaingan tersebut tidak hanya di bidang teknologi saja. Namun, di bidang pendidikan pun terjadi persaingan untuk menunjukkan prestasi sekolah sekaligus siswa-siswinya.
 (Siswa-siswi SLB B Sukapura sedang menggunakan komputer isyarat)
Banyak perusahaan digital yang menyediakan konten-konten menarik. Baik itu untuk keperluan pribadi, seperti; konten penghubung jejaring sosial, beraneka permainan, maupun untuk kepentingan umum, semisal e-book, Al-Quran, atau konten lainnya untuk dunia pendidikan secara luas maupun digunakan sebagai bacaan pribadi.
Mudah sekali untuk mengakses, mengunduh dan memanfaatkan fasilitas konten dalam gadget. Tentu saja andai kita memiliki gadget yang sesuai. Jika gadget kita sudah ketinggalan zaman, tidak memiliki aplikasi-aplikasi terkini, maka sudah dipastikan kita tidak dapat mengakses konten terbaru.
Tidak bisa dipungkiri, mulai dari kalangan bawah, menengah, hingga atas membutuhkan gadget yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di dalam gadget biasanya sudah terdapat fasilitas konten dari penyedia layanan. Kita bisa meminta kepada mereka untuk memberikan konten apa saja yang kita inginkan, selama fasilitas dari dalam gadget mendukungnya.
Apabila ditanya, sebetulnya yang dibutuhkan kita itu gadget apa konten? Atau gadget dan konten? Bagaimana dengan gadget yang ketika dibeli sudah bundling dengan konten?
Jawabannya, pasti akan beragam. Namun, kebanyakan akan menjawab gadget dan konten. Sederhana saja, biasanya orang membeli gadget, tentu sudah mempertimbangkan konten yang sesuai untuknya. Ketika ada perubahan atau perkembangan dunia gadget serta kebutuhan penggunanya, mereka tentu akan mengganti gadget dengan konten terbaru sesuai perkembangan terkini.
Banyak sekali beredar di pasaran, gadget yang ketika dibeli sudah bundling dengan konten. Hal ini justru mempermudah pembeli sebagai konsumen untuk menikmati layanan aplikasi konten yang sudah tersedia dalam gadget, tanpa harus repot-repot meng-upgrade gadget untuk menyesuaikan dengan konten terbaru.
Konten apapun di dalam gadget, sebetulnya sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu kembali kepada penggunanya. Tentu harus bijak menggunakan gadget agar menjadi barang yang bermanfaat. Toh, terlalu sering atau terlalu lama menggunakan gadget, secara umum bisa merusak kesehatan. Tanpa disadari, tahu-tahu mata kita sakit dan harus periksa ke dokter. Atau mungkin, bisa saja tangan kita kelelahan, tiba-tiba kesemutan.

Menurut saya, konten yang bermanfaat adalah konten yang mudah didapat, menghubungkan kita dengan sesama sebagai sarana silaturrahim, dapat digunakan orang banyak, mudah menggunakannya, lancar saat digunakan, dapat digunakan di mana pun ketika kita berada, menjadikan kita makin cerdas, beriman, bertakwa, serta mampu menginspirasi. Contoh sederhananya, komputer isyarat hasil inovasi mahasiswa ITB yang dijadikan uji coba di lingkungan tempat saya mengajar (SLB B Sukapura). Dan ada pula yang saya baru ketahui dari hasil mesin pencari di internet, yaitu; Syaamil Note, produk smartphone android yang didalamnya di lengkapi aplikasi built in islami paling lengkap.

 (Sumber:http://syaamilquran.com/produk/syaamil-digital/syaamil-note)
 Sayangnya, saya belum memiliki gadget keren seperti Syamil Note, hingga saya rasa belum bisa menceritakannya. Kecuali komputer isyarat di sekolah yang sering saya gunakan dalam proses kegiatan belajar bersama anak-anak, tentu akan lebih mudah untuk saya ceritakan karena sudah menjadi bagian keseharian selama di sekolah.
Komputer isyarat ini memang ukurannya cukup lebar dibanding gadget smartphone atau tablet, namun anak-anak di sekolah menyukainya.
Komputer isyarat yang hanya diujicobakan ketika mahasiswa melakukan penelitian uji lapangan, kemudian dihibahkan untuk untuk digunakan di sekolah ini, memiliki kemampuan berbeda dari komputer biasa pada umumnya. Layar sentuh, memudahkan siswa secara langsung untuk memilih menu dan konten tanpa harus menggunakan tetikus. 
(Satu sentuhan jari pada layar, bisa membuat mereka menemukan informasi sesuai yang diinginkan)
Adanya alat rekam kinect, dapat membuat rekaman gerakan anak ketika mengikuti gerakan contoh dari pemberi isyarat di komputer. Uniknya, apabila gerakan salah, maka komputer akan menuliskan gerakan kita masih salah. Sebaliknya, apabila gerakan kita betul, maka muncul tulisan benar.
(Alat rekam kinect pada komputer isyarat)
Bukan hanya pernyataan benar atau salah saja atas gerakan kita, komputer isyarat ini menyimpan konten berbagai kumpulan cerita sehari-hari yang cukup luas dengan bahasa bicara, isyarat, dan tulis. Kosa katanya pun banyak sekali. Ada kosa kata isyarat lokal juga, maksudnya penggunaan bahasa isyarat di daerah tertentu. Tiga kosa kata isyarat daerah yang tersimpan dalam komputer ini yaitu; Jakarta, Bandung, dan Solo. 
(Aktivitas mengikuti kosa kata isyarat di komputer isyarat)
Setiap ada kunjungan tamu dari luar, baik itu mahasiswa yang sedang melakukan observasi, penelitian, atau masyarakat umum, biasanya akan tertarik dengan penggunaan komputer isyarat ini seraya berdecak kagum. Alat ini sudah berhasil menginspirasi para tamu 'kan? Hampir sebagian besar dari mereka belum pernah terpikir akan melihat dan mencoba alat seperti ini. Dan di sinilah mereka bisa mencobanya.
Hebat, bukan? Dengan satu sentuhan jari, anak-anak luar biasa pun sudah menikmati konten terkini dari fasilitas gadget yang ada. Apalagi untuk masyarakat umum secara luas. Jari-jari mereka tentu sudah terampil menggunakan hampir semua konten dari gadget yang mereka miliki. Satu sentuhan jari mereka membuka peluang untuk membuka berjuta pengetahuan yang bisa mereka dapatkan.
Semoga sentuhan jari penduduk Indonesia, bukan hanya bisa mengakses jutaan informasi maupun pengetahuan saja secara instan. Namun justru sebaliknya, semoga sentuhan mereka dapat menjadikan Indonesia sebagai produsen atau fasilitator sebuah produk dan jasa bagi warga dunia untuk mendapat akses pengetahuan. Aamiin.
Semoga bermanfaat.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Parade Ngeblog IKAPI Jabar & Syaamil Quran #PameranBukuBdg2014

Bersatu Memandirikan Anak Luar Biasa

  Sebelum adanya pandemi COVID-19, setiap hari Selasa, mulai pukul 11.00 WIB hingga selesai, peserta didik SLB B Sukapura kelas tinggi, sebu...