Tampilkan postingan dengan label Cerpen Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Anak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Juni 2014

Kotak Telur Asin yang Kosong (Cerpen Radar Bojonegoro)





Kalau ada yang berminat mengirim naskah cerpen anak ke Radar Bojonegoro, silakan kirim email: kenalyan@yahoo.co.id.

Ini cerpen saya yang sudah dimuat. (ada juga yang sudah diedit oleh Bapak editor yang baik. Jangan lupa biodatanya cantumkan ya. Plus alamat untuk pengiriman bukti terbit dan "special gift" dari redaksi). Selamat berkarya.




Kotak Telur Asin yang Kosong
Oleh Susanti Hara Jv

Senyum mengembang di wajah Asan, pemuda Desa Turi yang hari ini mulai bekerja. Asan bekerja di tempat Pak Jono, pemilik usaha telur asin. Tapi, pekerjaannya bukan membuat telur asin seperti pegawai lainnya. Asan bertugas mengantarkan telur asin ke tempat langganan Pak Jono.
“Sudah siap, San?” tanya Pak Jono, sambil menutup kotak kayu pengiriman telur asin, di belakang sepeda motor yang akan dikendarakan Asan.
            “Siap, Pak.”
            “Jangan lupa, surat tanda terima telur asinnya harus ditanda tangan pelanggan ya?”
            “Baik, Pak. Semua akan saya laksanakan sesuai perintah Bapak.”
            Setelah pamit, Asan mengendarai sepeda motor dengan hati-hati, mencari-cari alamat yang dituju. Hingga sampai di Restoran Nikmat Bersama, salah satu tempat yang harus dikirimi telur asin. Asan memarkir sepeda motor di halaman restoran.
Mas Mada, pelayan restoran yang sedang membersihkan halaman restoran menyambut ramah. Mereka berkenalan dan membicarakan pesanan restoran.
            “Apa semuanya beres?” tanya Mas Mada. “100 butir telur asin rebus dan 150 puluh butir telur asin panggang.”
            “Beres, Mas.” kata Asan yakin. “Mau disimpan di mana kotak-kotak telur asinnya?”
            “Masih pukul 08.00. Biasanya pengunjung datang satu jam lagi. Jadi, simpan di atas meja pengunjung dulu saja.”
            Mereka berdua menyusun 10 kotak telur asin rebus di meja pengunjung. Dan di sebelahnya, mereka menyusun 15 kotak telur asin panggang.
            “Saya periksa dulu isinya.” Mas Mada membuka kotak telur asin satu per satu.
             Asan terperanjat kaget mengamati beberapa kotak telur asin yang kurang isinya. Seharusnya, setiap kotak berisi 10 butir telur asin. Namun, ada 4 kotak telur asin rebus yang masing-masing jumlahnya 9 butir. Dan 2 kotak telur asin panggang yang masing-masing berjumlah 8 butir.
            “Kenapa banyak kotak yang jumlahnya kurang?” Kening Mas Mada mengerut. “Wah, bisa merugikan pelanggan kalau begini.”
            “Maafkan kecerobohan saya, Mas,” mohon Asan. “Tadi, saking senangnya mulai bekerja, saya malah langsung berangkat. Saya tidak memeriksa isinya sama sekali. Saya pikir semuanya pasti sudah beres. Ternyata...”
            “Oh, begitu. Lantas, bagaimana dengan kekurangan jumlah telur asin ini?”
            Asan berpikir sebentar sambil menatap kotak-kotak telur asin yang kurang. Hingga muncul ide untuk memecahkan masalah. “Begini saja, Mas. Saya lengkapi jumlah kekurangannya, 4 butir telur asin rebus dan 4 butir telur asin panggang.”
            Bergegas Asan mengambil 8 butir telur asin pengganti. Asan menyerahkannya beserta surat tanda terima pengiriman telur asin. Asan lebih berhati-hati, tidak mau kejadian kurang menyenangkan terulang lagi.
Mas Mada menandatangani surat penerimaan telur asin. Urusan di Restoran Nikmat Bersama pun selesai. Asan pamit, melanjutkan perjalanan mengirimkan telur asin ke tempat lain.
Di setiap tempat yang dikirimi telur asin, Asan selalu memeriksa kembali isi kotak telur asin. Hingga sudah sembilan tempat yang dikirimi telur asin. Semuanya masih terkendali. Setiap ada kotak telur asing yang kurang, Asan menggenapi isinya dari kotak telur asin lainnya.
Namun, di tempat pengiriman terakhir, Asan benar-benar kebingungan. Tersisa 6 kotak telur asin kosong, tanpa isi satu butir telur asin pun.
            Dengan badan lemas Asan kembali ke tempat pembuatan telur asin. Ia menghela napas berat, kebingungan bagaimana menjelaskan kotak-kotak yang kosong kepada Pak Jono. Asan sama sekali tidak ingin mengecewakan Pak Jono. Apalagi menuduhnya telah berbohong. Ia juga tidak mau ada pegawai lain yang kena imbas akibat kecerobohannya.
            Tanpa diduga, Pak Jono menyambut Asan begitu sampai di tempat pembuatan telur asin. “Syukurlah kamu sudah pulang. Saya kira terjadi apa-apa di jalan.”
            Asan berusaha tersenyum. “Ya, Pak. Memang sudah terjadi sesuatu. Ada enam kotak telur asin kosong yang saya bawa pulang.”
            Pak Jono tertawa lepas. “Mana kotak-kotak telur asin lainnya?”
            “Sudah saya antarkan ke tempat langganan. Tapi, ada beberapa kotak yang isinya kurang. Sehingga langsung saya ganti dengan telur asin dari kotak lainnya.”
            “Ya, saya tahu. Mas Mada dan pelanggan lain menelepon saya. Sebenarnya kami bekerja sama. Sebelum kamu pergi, saya mengambil beberapa telur asin dalam kotaknya. Saya ingin mengetahui bagaimana cara kerja kamu.”
            “Maafkan kecerobohan dihari pertama saya bekerja, Pak. Saya berjanji akan bekerja lebih baik lagi.”
            “Saya justru senang hari ini. Saya memiliki karyawan baru yang bisa menyelesaikan masalah di tempatnya, saat itu juga, seperti yang sudah kamu lakukan. Seharusnya saya yang meminta maaf telah menguji kamu.”
            Asan tersipu malu. Dadanya plong. Ia merasa lega sudah menyelesaikan masalah pekerjaannya. Dalam hati, pemuda itu berjanji lebih teliti lagi supaya tidak merugikan siapa pun. Termasuk merugikan dirinya sendiri.

Kamis, 19 Juni 2014

Anak Lelaki yang Hebat (Majalah Bobo))


Anak Lelaki yang Hebat
Oleh Susanti Hara Jv

Sepulang sekolah, Didi melemparkan perlengkapan sekolahnya ke sembarang tempat. Rumah Didi berantakan, mirip kapal pecah. Selesai makan, Didi pasti langsung pergi bermain.
Bu Hani, ibunya Didi, sudah ratusan kali mengeluh dan mengingatkan pentingnya kebersihan. Didi selalu mengacuhkan nasihat ibunya.
Suatu hari, Bu Nia, majikan Bu Hani, memberitahukan keinginannya kepada Bu Hani. Dan Bu Hani menyampaikannya kepada Didi.
"Didi, mulai besok, Ibu Nia meminta kamu ke rumahnya. Kamu mau, kan?" pinta Bu Hani.
"Enggak, ah," tolak Didi.
"Lo, kenapa?" Bu Hani heran.
"Nanti, Didi pasti disuruh bekerja seperti Ibu. Iya, kan?” Didi ketus. “Rugi dong. Didi nggak bisa main."
"Justru, sebaliknya. Di sana banyak mainan. Kamu cuma menemani Rendi. Mau, ya?" Bu Hani memohon.
Berat hati, Didi mengangguk setuju.
Keesokan harinya. Sepulang sekolah, di ruang tengah rumah Didi sudah ada Pak Ilham, sopir pribadi keluarga Ibu Nia.
Seenaknya saja Didi masuk rumah, tanpa mengucapkan salam. Didi melemparkan tas, sepatu, dan seragam sekolahnya di sembarang tempat.
Wajah Bu Hani merah padam, sudah siap mengomel. Saat teringat ada tamu di rumahnya, Bu Hani menahan kekesalannya. Menjaga perasaan tamu agar tidak tersinggung.
"Bu, aku sudah siap!" seru Didi.
Bu Hani dan Didi segera menaiki mobil. Pak Ilham mengendarainya sampai di rumah bertingkat tiga.
Didi mengamati seisi rumah yang baru pertama kali diinjaknya. Ia berdecak kagum. Di dalam rumah ini, tidak ada satu pun barang berantakan. Buku-buku tertata rapi di dalam lemari khusus. Hiasan dinding berjajar teratur. Pakaian menggantung pada tempatnya
"Ini pasti Didi," sapaan ramah seorang anak lelaki, sambil menjulurkan tangannya ke arah Didi. "Nama saya Rendi."
Rendi langsung mengajak Didi ke kamarnya. Aroma pengharum ruangan menyegarkan. Rasanya, Didi ingin tinggal di tempat ini. Didi meraba tempat tidur Rendi. Halus dan lembut di tangannya.
“Didi, kamu sudah makan belum?” tanya Rendi.
“Belum,” jawab Didi.
Langkah cepat, Rendi mengajak Didi menuju ruang makan. Rendi mengajak Didi melafalkan doa sebelum makan. Didi bengong. Selama ini, sebelum makan, Didi tidak pernah berdoa dulu. Selesai berdoa, keduanya menikmati sepiring nasi dan setengah mangkuk soto ayam.
"Aku selalu suka masakan Bu Hani," puji Rendi. "Nyam, nyam, enak!"
"Aku juga suka masakan Ibu," ungkap Didi.
Baru kali ini Didi menyadari, Ibunya baik sekali. Sebelum pergi bekerja, pasti sudah menyiapkan semua keperluan Didi. Tetapi, belum pernah sekalipun Didi memuji Ibunya. Didi makan sambil merenung, hingga makanannya habis.
"Kok diam saja?" ujar Rendi. "Yuk, kita main keluar."
Di luar dugaan, Rendi mencuci peralatan bekas makannya terlebih dahulu. Dengan terpaksa, Didi mengikutinya.
Selesai membereskannya, Rendi mengajak Didi menuju gudang. Suara pintu berderit mengagetkan Didi. Matanya terbelalak. Diamatinya susunan tumpukan karung berisi mainan.
Rendi meraih karung mengembung. Karung-karung di dekatnya tertarik. Dan, gudang menjadi berantakan.
Rendi memberikan dua buah pesawat mainan ke tangan Didi. "Tunggu, kita rapikan ruangan ini dulu!" seru Rendi.
“Rendi, kenapa kamu membereskannya sendiri?” tanya Didi, bingung.  “Bukankah ada Pak Ilham sama Ibu?”
"Papa bilang, anak lelaki harus hebat,” ujar Rendi, bangga. “Laki-laki itu calon pemimpin. Papa sering mengingatkan aku. Berusahalah semampunya! Kalau kita sudah tidak bisa, baru meminta bantuan orang lain."
Didi murung, teringat ayahnya yang meninggal tiga tahun lalu. Sekarang, Didi sudah kelas empat SD. Rendi beruntung masih memiliki ayah, pikir Didi.
"Sudah beres. Yuk, kita ke lapangan," ajak Rendi.
Didi mengamati sekitar lapangan. Tempatnya luas. Di pinggir lapangan ditanami pepohonan. Aneka tanaman hias tampak beragam.
"Wah, ramai sekali," ujar Didi.
"Kalau sore, anak-anak komplek selalu berkumpul. Ayo, aku kenalkan kamu sama teman-temanku." Rendi menarik pelan tangan Didi.
Hari pertama di Komplek Perumahan Elit, Didi langsung berteman dengan Rendi, sekaligus temannya Rendi. Senyum terkembang, Didi bahagia. Teman-teman barunya ramah, santun, dan mudah akrab.
Pesawat mainan remote control menabrak dinding benteng, perbatasan Komplek Perumahan Elit, dan komplek lainnya. Anak-anak di lapangan tertawa bersama. Mereka geli melihat pesawat berputar-putar di udara.
Hingga tiba saatnya Didi pulang ke rumah, keakrabannya bersama teman-teman barunya masih membayang. Senangnya, berteman dengan Rendi, pikir Didi.
Memasuki kamarnya, Didi teringat kamar Rendi. Kedua tangannya meraba tempat tidurnya.
“Ih, kasar. Banyak debu. Sumpek,” gumam Didi. Ia mengambil sapu lidi di sudut ruangan. Disapunya kasur hingga bersih.
“Ah, nyamannya. Mulai besok, aku mau merapikan seisi rumahku, ah,” janji Didi. “Aku nggak mau kalah sama Rendi. Aku mau menjadi anak lelaki yang hebat.”





Bersatu Memandirikan Anak Luar Biasa

  Sebelum adanya pandemi COVID-19, setiap hari Selasa, mulai pukul 11.00 WIB hingga selesai, peserta didik SLB B Sukapura kelas tinggi, sebu...