Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Januari 2015

Kunjungan ke Situs Bung Karno Banceuy

Menjadi kebahagiaan tersendiri pada tahun 2014 saya bisa masuk ke Situs (Sel Tahanan Bung Karno di Kota Kembang). Meski saya kebingungan harus bertanya kepada siapa, namun jejak rekaman gambar ini bagi saya sangat berharga untuk diabadikan.
Tak ada yang kebetulan. Saya sendiri sering sekali melewati jalanan sekitar sini sebelumnya. Tetapi sama sekali belum pernah tahu kalau di sekitar yang saya lewati ini terekam jejak sejarah #SuperPenting.
Bertepatan dengan adanya kegiatan yang dilakukan para pemuda (ntah apa lupa lagi namanya) dan saat itu siswa-siswi SLB B Sukapura tampil membawakan beberapa tarian. Ada Tarian Bunga, Tarian Indonesia bangkit, dan pastinya pertunjukkan seru juga persembahan para pemuda yang menggambarkan zaman sejarah kebersamaan Bung Karno dengan Ibu Inggit.

(Pak Dadan, Dodi, siswa-siswi SLB B Sukapura, serta mahasiswa PPL UPI menarikan tarian Indonesia Bangkit)

Sayang sekali, kamera genggam saya keburu tenggelam di Laut Setro Jenar Kebumen waktu libur ke sana. Dan hasilnya foto maupun video seadanya.

Alhamdulillah, dalam acara ini saya bisa berpose dengan (ceritanya batu nisan Ibu Inggit Garnasih)

Di dalam penjara waktu Bung Karno diasingkan terdapat sesajen. Entah itu kepercayaan, harus ada, atau bagaimana saya kurang mengerti karena tidak bisa bertanya kepada orang yang tepat. (Ah, dasarnya memang saya tidak tahu harus bertanya kepada siapa, getho.)


Ini bagi yang mau berkunjung bisa konfirmasi kepada kuncennya kalau kata orang Sunda. :)
Untuk memasuki situs ini harap lapor terlebih dahulu kepada pengurus situs. Hubungi: Bapak Achmad dengan nomor telepon: 087823221736.

Semoga tempat bersejarah ini dapat terus menjadi bukti kepada generasi berikutnya dan tak terhapus masa karena tergerus zaman.




Minggu, 16 November 2014

Tak Terasa Bau Tanah


Jumat, 14 November 2014, tepat 40 hari adik saya, Rohmatulloh meninggalkan alam fana ini. Renungan yang sangat dahsyat ketika berada di sekitar makam. Bukan hanya kita yang berasal dari tanah dan akan kembali ke dalam tanah untuk mempertangguhngjawabkan semua amal di hadapan Sang MahaPencipta.

Ini acuan langsung dalam Al-Quran
 “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (QS Shaad: 71-72)
 “Dan Allah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari air mani…” (QS Faathir: 11)
Pekuburan tempat saya  berpijak di kelilingi sawah, kebun, dan perumahan sederhana penduduk. Pikiran saya melayang pada tumbuhahan hijau berbunga aneka warna. Dan seorang petani yang menyimpan sepeda di bawah pohon ketapang, lalu melangkah ke sawah.
Segala puji bagi Allah terucap seketika. Allah menciptakan segala jenis tumbuhan, ketika manusia memasaknya, menikmatinya sebagai sajian hidangan, bau tanah tak terasa lagi. Tak hanya sampai di sini saja, saya jadi teringat ucapan masyarakat pada umumnya, “bau tanah”. Ungkapan itu mungkin tidak bisa ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tetapi ungkapan itu beredar luas dalam kehidupan sehari-hari sebagai sebutan untuk mereka yang sudah sepuh dan dianggap mendekati batas akhir kehidupan manusia di dunia ini.
Nyatanya, Allah sebagai penggenggam kehidupan, bisa saja setiap waktu mengambil mereka yang dikatakan orang pada khususnya belum berlabel “bau tanah”. Contoh terdekat, adik saya yang meninggal di usia menjelang 19 tahun.
Mengelus dada, beristigfar, betapa dekatnya saya dengan tanah. Bagian bumi yang dalam kehidupan sehari-hari kita injak untuk melangkahkan kaki. Kelak, kita akan menyatu dengan bagian alam bernama tanah ini.

Di tempat ini saya menemukan hikmah begitu dalam. Selama menikmati kehidupan di dunia, mungkin kita bebas menggunakan wewangian sebagai pengharum badan, tapi kita harus selalu ingat tempat kembali kita.
Semoga kita dijadikan insan-insan terbaik dan husnul khotimah ketika menghadapNya. Aamiin
Kebumen, 14 November 2014

Kamis, 09 Oktober 2014

Pesan Terindah


Tak pernah sekalipun terdengar keluhan rasa sakit dari kedua bibirnya. Hanya kita (kedua orangtua dan kakak-kakaknya) dari pihak keluarga yang justru sering mengajaknya ke dokter (bahkan setengah memaksa agar mau ke dokter). Begitupun ketika Selasa, (07/10/2014) pukul 00.00 WIB pihak keluarga memaksanya ke rumah sakit karena melihat kondisinya gelisah, tidak mau diam, bolak balik ke kamar mandi, tubuhnya lemah dan  pucat.
Di rumah sakit, ia dinyatakan tidak apa-apa dan dibawa pulang. Namun, sekitar pukul 03.00 WIB ia meminta anggota keluarga menemaninya berkumpul. Dekapan hangat keluarga serta saling menyemangati antar anggota keluarga menyelimuti dirinya dalam ruangan yang biasanya digunakan menonton televisi.
Doa-doa, kalimah thoyyibah, serta kedua kalimah syahadat terucap dari anggota keluarga. Ia mengikuti tanpa ragu. Ketika seorang kakaknya mengatakan, “Choi, kamu harus sembuh, nanti aku enggak ada teman becanda.”
Ia pun mengamininya dengan segera. Begitu ketika seruan untuk mengajak salat berkumandang, ia mengikuti setiap lafalnya. Bahkan mengajak semuanya salat meski keadaannya begitu lemah. Ke kamar mandi saja harus dipapah oleh 3 orang.
Hal paling berkesan suasana subuh itu adalah ia sebut nama anggota keluarganya, memintanya mendekat, mulai dari kedua orangtuanya hingga seluruh kakaknya, dipeluknya erat satu per satu. Pesan terindah yang tak mungkin untuk terlupakan, tersirat lembut mengikat kuat. Sesakit apapun, bagaimanapun keadaannya, salat lima waktu merupakan kewajiban!
Air mata anggota keluarga berjatuhan melihat kondisinya yang tanpa daya. Dan akhirnya memutuskan membawanya ke RS. Pindad Bandung. Di tempat inilah, para dokter meminta keluarga pasien untuk tabah menerima apapun nanti hasilnya. Mereka bilang, “Jantung pasien tidak dapat memompa darah. Darah merah kalah sama darah putih. Kuman sudah menyebar menuju jantung, dll.”
 (Perjuangan Tuloh ketika di RS. Pindad)
Keputusan akhir dari para dokter agar pasien segera cuci darah, segera pihak keluarga terima. Sayangnya, peralatan di rumah sakit ini kurang memadai. Para dokter segera menghubungi rumah sakit lain. Beberapa rumah sakit yang memiliki peralatan canggih untuk cuci darah sudah penuh. Bahkan, ada pasien yang sudah booking untuk cuci darah sampai 2 hari kedepan.
Akhirnya, pasien harus menunggu di rumah sakit pertama dari pukul 05.00-09.30 WIB. Karena pada jam terakhir itu alhamdulillah keluarga mendapat kabar dari dokter, di RS yang ada di daerah Soreang sedang kosong, bisa untuk cuci darah. Dan ke sanalah ambulans membawanya pergi bersama Bapak dan seorang kakak perempuannnya.
Kakak perempuan yang akhirnya menyesal membawa adiknya ke sana. Disaat melihat adiknya kejang, memanggil perawat, perawat itu malah menyepelekan keadaan adiknya, “Itu mah sudah biasa.”
Hati yang begitu pedih makin pedih dan sangat kesal terhadap perlakuan perawat. Bersyukurnya, ada dokter yang begitu sibuk, ketika melihat kondisi pasien dan kakaknya, segera bergegas datang dan hendak menolong pasien. Sayang, masa bernapas pasien telah habis.
Tetes air mata dari pihak keluarga tentu tak dapat ditahan. Untuk pertama kalinya saya tahu bagaimana sesuatu seakan terlepas dari tubuh dan akan ambruk tanpa daya (pingsan) meski saya tidak mengikutinya ke rumah sakit kedua dan hanya mendapat kabar via telepon.
Kepergiannya yang mendadak di usia 18 tahun, baru lulus dari SMKN 6 Bandung, membuat siapapun tak percaya kalau ia telah pergi menghadap SangPenciptanya kembali.
Ya Rabb, jadikan Rohmatuloh, putra dari kedua orangtua kami, sekaligus adik bungsu kami sebagai insan husnulkhatimah. Aamiin
 (Jenazah Tuloh setelah sampai rumah duka keluarga di Kebumen)

(Menyaksikan secara langsung aktivitas penggali kuburan ketika saya mengantarkan makanan berat dan ringan untuk mereka. Suasana asri begitu memanjakan seluruh indra. Sayangnya tidak mampu atau mungkin belum bisa menawarkan kepedihan dalam hati atas kehilangan orang yang begitu dekat dalam keluarga)
(Suasana haru meski diselingi canda dari pembicara. Serah terima jenazah dari Bandung kepada warga setempat [Dusun Bulus Pesantren, Sidomoro, Kebumen-Jawa Tengah])
 
 (Warga Kebumen yang menyolatkan jenazah Rohmatuloh. Dari lubuk hati terdalam berterima kasih kepada semua pihak.)
(Pemberangkatan jenazah dari rumah menuju ke pekuburan keluarga untuk dimakamkan)
(Memakamkan jenazah ke dalam kubur.)
(Isma yang begitu perih merasakan kehilangan, tak mau meninggalkan kuburan dan tetap ingin di sini meski semua rombongan pengantar jenazah sudah pulang. Bahkan, rombongan yang harus pulang ke Bandung sudah bersiap kembali di dalam mobil masing-masing)
Ya Rabb, jadikan Rohmatuloh, putra dari kedua orangtua kami, sekaligus adik bungsu kami sebagai insan husnulkhatimah. Aamiin
(Bandung-Kebumen, 07-09 Oktober 2014)

Bersatu Memandirikan Anak Luar Biasa

  Sebelum adanya pandemi COVID-19, setiap hari Selasa, mulai pukul 11.00 WIB hingga selesai, peserta didik SLB B Sukapura kelas tinggi, sebu...