Selasa, 09 September 2014

Asyiknya Menulis Artikel


Judul                                       : Menembus Koran: Berani Menulis Artikel Edisi II
Penulis                                     : Brahma Aji Putra
Penyelaras Isi                          : Tim Leutika
Pemerhati Aksara                    : Tim Leutika
Desain Sampul                        : Anto
Tata Letak                               : Ahmed Ghoseen A
Penerbit                                   : Easymedia (Kelompok penerbit Leutika)
Terbit                                       : 2012
ISBN                                       : 978-602-97078-8-5
Tebal buku                              : 143 hlm.; 13 X 19 cm.

Lingkungan sekitar saya (dunia pendidikan) sangat menginspirasi dalam banyak hal. Salah satunya untuk menuliskan keunikan setiap kejadian yang terjadi sehari-hari. Seringkali ingin menulis artikel untuk dikirim ke media. Namun, selalu saja ada kendala. Terutama kendala “perasaan”.  Perasaan begini dan begitu yang campur aduk dan mengarah ke hal negatif. Meski pada akhirnya mengalihkan perasaan negatif itu tetap dengan menulis. Ya, walaupun menulis cerita anak, cerpen untuk remaja, dewasa, atau apa sajalah yang penting judulnya saya menulis.
Berbeda ketika saya menemukan buku ini di Pameran Buku Bandung pada 2 September 2014. Tanpa berpikir tiga kali langsung membelinya. Jelas saja, saya memang ingin bisa menulis artikel. Apalagi kalau artikel saya dimuat media. Beuh, senang banget rasanya.
Buku ini membuat saya memahami dan menguasai materi yang ditulisnya. Melalui buku ini saya mendapatkan ilmu mengenai pengalaman panjang Mas Brahma Aji Putra dalam dunia menulis artikel. Menulis artikel layak muat di media massa (koran/majalah) memanglah tidak mudah. Namun, pemaparan dan tips menulis artikel dalam buku ini begitu rinci disertai contoh-contoh tulisan yang sudah dimuat. Buku ini enak dibaca dan juga menyenangkan ketika menyerap ilmunya.
Buku yang terdiri dari 13 bagian catatan ini benar-benar ringkas tapi jitu. Tepat pada sasaran bagi yang ingin menulis artikel seperti saya.
Mau tahu catatan apa saja yang dijelaskan dalam buku ini? Catatan yang sebenarnya tidak jauh dari kondisi seorang penulis, di antaranya: buktikan kepandaian dengan goresan tangan, bagaimana menciptakan mood menulis, membiasakan diri menulis diary, rakus membaca, revisi itu nanti usai tulisan jadi, (menulis: terapi jitu saat recovery), bagaimana kalau tulisan macet? (resensi: sekali dayung, dua tiga pulai terlampaui), siapa penulis idola anda? (Produktif menulis, daya ingat tajam), (ah, kalau cuma begitu, aku juga bisa), mozaik 1996-Mei 2005. Serta lampiran-lampiran “Menulis, Satu-Satunya Cara Agar Tetap Waras”.
Buku ini memang benar-benar layak dipelajari kalangan yang ingin menjadi penulis artikel. Khususnya, saya sendiri.
-          Semoga bermanfaat –
(Resensi Ini Ditulis untuk Mengikuti Lomba Indiva Readers Chalenge 2014)

Minggu, 07 September 2014

Perjuangan Aisyah Memenangkan Lomba Lari


Judul Terjemahan                    : Dunia Aisyah: Jadi Juara
Judul Asli                                : Young Aisyah: Juara Kampung Badak Berendam
Penulis                                     : Saridah Hamid dan Reja
Penerjemah                              : Raviyanto
Ilustrasi Sampul dan Isi          : Rezarly Musa (Reja)
Adaptasi Sampul dan Tata Letak Isi  : Muksith Surury
Penerbit                                   : PTS Islamika Sdn. Bhd., Malaysia
 (Diterbitkan pertama kali oleh PT. Gramedia Pustaka Utama)
Terbit                                       : 2009
ISBN                                       : 978-979-22-6376-3
Tebal buku                              : 160 hlm.

Buku “Dunia Aisyah: Jadi Juara” ini dilengkapi ilustrasi berupa gambar komik. Isinya  menceritakan perjuangan Aisyah untuk mengikuti kegiatan PAK POS (Pertandingan Antar-Kelas Pekan Olahraga Sekolah). Aisyah pulang ke rumah dengan cemberut karena kelelahan latihan.
Ibunya menyangka hanya karena ada pelajaran olahraga. Aisyah menceritakan keinginannya sekaligus meminta pendapat dan dukungan ibunya. Bu Aminah, ibunya Aisyah malah menertawakan. Aisyah belum pernah ikut lomba lari. Ibu cuma pernah melihatnya berlomba dengan Mimi, kucing kesayangannya. Itu juga Mimi yang menang. Biasanya Aisyah tertinggal jauh di belakang dengan napas ngos-ngosan, sedangkan Mimi berlari cepat. 
Ibu menyangsikan kemampuan Aisyah yang bertubuh gemuk akan mampu berlari cepat. Aisyah ngambek. Namun, Aisyah tetap ingin berprestasi di pelajaran, sekaligus dalam olahraga.
Keinginan Aisyah tertanam kuat hingga terbawa mimpi. Ibu menceritakannya kepada Ayah. Sebaliknya dengan Ibu, Ayah justru mendukung keinginan Aisyah. Dalam obrolan ini diselingi dengan cerita Nabi Muhammad saw. yang juga suka olahraga.
Sewaktu jam istirahat di sekolah, Aisyah dan Amira melihat Ali dan Adam di kantin. Mereka mengajak Ali dan Adam tanding lomba lari di lapangan bola bada ashar. Aisyah mengajak Mimi, kucingnya. Adam dan Ali menyetujuinya. Aisyah pun mengajak teman sekelas lainnya.
Seperti yang sudah dijanjikan, sorenya Ali dan Adam tiba lebih dulu di lapangan. Aisyah terlambat karena menunggu teman-temannya datang.
Saat perlombaan berlangsung, Mimi tersasar. Kucing itu takut mendengar sorak sorai penonton. Berlari tunggang langgang. Bersembunyi di balik semak-semak di pinggir lapangan.
Sementara Ali memimpin di depan. Tapi, begitu setengah putaran, perlahan-lahan larinya melambat. Aisyah berhasil menyusul Ali. Sayangnya, Aisyah dikejar anjing. Berteriak meminta tolong. Larinya melenceng ke sebelah lapangan. Sementara Amira dan teman-temannya yang lain lari berpencaran saat melihat anjing berlari ke arah mereka.
Menyadari anjing sudah tidak mengejarnya lagi, Aisyah mencari Mimi. Memanggil-manggil Mimi. Sesampainya di bawah pohon rambutan, Aisyah melihat ada yang bergerak-gerak. Ternyata, Ali dan Adam bersembunyi di atas pohon rambutan. Mereka meminta Aisyah naik dan makan rambutan bersama.
Aisyah berusaha keras memanjat pohon itu. Seumur hidup, dia tidak pernah memanjat pohon. Aisyah menjerit, terjatuh karena sepatunya licin saat memanjat pohon. Kakinya sakit dan terluka. Ali dan Adam menolongnya. Namun, Aisyah menolaknya karena bukan muhrim. Ali meyakinkan Aisyah sesuai apa yang didengar dari ustaz, jika ada yang sedang sakit harus segera ditolong, beserta alasan lainnya.
 Saat Aisyah berusaha bangkit dan berjalan kembali, Aisyah melihat sesuatu bergerak-gerak di balik semak-semak. Ternyata itu Mimi. Aisyah gembira. Ali dan Adam pun merasa lega.
Mulai saat itu, setiap hari selama dua jam, semua murid berlatih olahraga menurut tim yang sudah dibentuk. Aisyah dan teman satu timnya sibuk berlatih. Aisyah terpilih mewakili 4A-putri di nomor lari 100 meter. Sementara Amira di nomor lari gawang 100 meter. Aisyah giat berlatih olahraga hingga kelelahan.
Pesta olahraga hampir tiba. Aisyah memberikan surat undangan kepada ibunya. Ia mengajak seluruh keluarganya untuk datang. Hingga hari itu tiba. Aisyah mengikuti lomba dengan dukungan dari teman-temannya, Ibu, Ayah, nenek, dan kakaknya. Aisyah berhasil juara pertama.
Satu demi satu acara PAK POS berlangsung. Kelompok A masih memimpin hingga benar-benar menang, menjadi juara umum. Ketika lomba tarik tambang, tiba-tiba, Farah, teman Aisyah terkulai ke tanah. Suasana menjadi panik.  Aisyah dan Amira memeluk teman mereka. Semua khawatir termasuk guru-guru. Mereka cepat-cepat memanggil tim P3K yang sejak tadi berjaga-jaga di pinggir lapangan.
Begitupun ayah Farah yang segera membopong putrinya masuk ke dalam mobil. Aisyah dan Amira merasa sedih. Namun, mereka harus kembali ke barisan kelompok A untuk melanjutkan lomba.
Usai lomba, Aisyah dan teman-temannya menjenguk Farah. Farah yang dirawat di rumah sakit merasa terharu melihat kepedulian teman-temannya. Mereka semua berseri-seri. Apalagi ketika Farah tahu Aisyah mendapat predikat atlet putri terbaik. Sekarang Aisyah punya julukan baru, Aisyah sang juara.
Pesan moral novel anak ini benar-benar asyik, “juara”: bersungguh-sungguh dalam melakukan apa yang kita yakini. Bersahabat itu menyenangkan. Empati, peduli terhadap sesama.
Novel ini bagus untuk melatih percakapan anak. Sekaligus bisa juga untuk memotivasi agar anak membiasakan membuat catatan harian tentang kegiatan di rumah, di sekolah, atau di lingkungan mana pun anak berada. Tulisan dalam buku ini begitu dekat dengan keseharian anak. Sayang, ilustrasinya tidak berwarna. Namun, tetap tidak mengurangi nilai tambah novel ini yang dilengkapi dengan kutipan-kutipan sabda Rasulullah, pepatah Arab, doa Rasulullah, dan juga doa anak itu sendiri. 
 Selamat melatih  membimbing anak menjadi juara. Mari membiasakan mereka dekat dengan SangPenciptanya melalui doa.
-          Semoga bermanfaat –
(Resensi Ini Ditulis untuk Mengikuti Lomba Indiva Readers Chalenge 2014)

Sabtu, 06 September 2014

Siapa Saja Bisa Mengetahui IQ Anak



Judul           :SUPER INTELLIGENCE (TES IQ ANAK PRA-TK, TK, SD)
Penulis                                    : M. Hariwijaya & Atik Sustiwi
Tata Letak & Desain Sampul: Norman Corp
Penerbit                                   : Elmatera Publishing
Terbit                                       : Cetakan Pertama, Juni 2009
ISBN                                       : 978-979-17835-4-3
Tebal buku                              : 232 halaman

Menyesal rasanya baru menemukan buku ini di Pameran Buku bandung 2014. Padahal, selama ini saya mencari buku-buku untuk mengukur potensi kecerdasan anak. Buku ini cukup beda dengan yang sudah saya miliki. Buku ini terdiri dari 5 bagian tes untuk anak sesuai perkembangan usianya.
Alat ukur Tes Inteligensi Anak ini bermaksud untuk mengetahui tingkat kecerdasan anak. Sebab, kecerdasan berkaitan dengan ketepatan pemahaman akan tugas, kewajiban, hak, wewenang, dan pengambilan keputusan.
Inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional.
Saat ini Tes Inteligensi digunakan untuk banyak kegunaan dalam studi dan perusahaan. Para anggota baru yang akan masuk ke angkatan bersenjata hampir di semua negara maju dan berkembang akan menggunakan Tes Inteligensi sebagai pintu masuk. Para psikolog percaya bahwa Inteligensi menentukan 90% keberhasilan hidup. Jika seseorang memilik IQ tinggi, ditambah dengan EQ yang tinggi pula, orang tersebut akan lebih mampu menguasai keadaan, dan merebut setiap peluang yang ada tanpa membuat masalah yang baru.
Faktor-faktor yang memengaruhi inteligensi, yaitu: bawaan atau genetik, kondisi lingkungan, serta gizi yang memengaruhi perkembangan otak.
Pengaruh IQ dengan kesuksesan dalam hidup sangat tinggi. Misalnya, inteligensi memengaruhi kreativitas seseorang. Sedangkan kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku inteligen sebab kreativitas adalah manisfestasi dari suatu proses kognitif. Walau ada anggapan, kreativitas memiliki hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti dari peneltitian tidak mendukung hal itu. Kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Tes Inteligensi Anak dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan melalui soal-soal verbal, numerik, spasial dan logika.
Dalam buku inilah, selain mendapat penjelasan informasi di atas, diberikan pula keterangan bagaimana menggunakan buku untuk membimbing orangtua, guru, atau pihak manapun yang bermaksud menggunakan buku tes ini.
Lembaran-lembaran tes, ada kunci jawabannya setelah menyelesaikan seluruh soal dalam tiap bagian. Sayangnya, buku ini tidak dilengkapi keterangan lebih jelas mengenai jawaban anak. Meski demikian, buku ini sangat membantu dalam mengetahui karakteristik soal sesuai dengan usia anak, sehingga dapat saya terapkan penggunaannya di sekolah.
*Semoga bermanfaat*
(Resensi Ini Ditulis untuk Mengikuti Lomba Indiva Readers Chalenge 2014)



Dekat, Tetapi Ragu untuk Aku Sentuh


Menjadi hal menakjubkan ketika melihat sesuatu yang aneh. Bagi saya pribadi, salah satunya ketimpangan sosial antara si miskin dan kaya. Selokan di pinggir kantor Pemerintah Kota Bandung, atau orang-orang sekitar saya menyebutnya Balai Kota, menjadi sesuatu yang aneh pula bagi saya.
(Gerbang Pemerintahan Kota Bandung)
Selokan di pinggiran balai kota Bandung ini sangat menarik bagi saya. Gimana enggak? Rasanya selalu saja ada yang unik. Pertama kali saya melihat seorang lelaki tua tampak ribet dengan bawaan karung sedang rehat di sini. Eh, begitu sengaja jalan-jalan ke tempat ini lagi, saya melihat lagi ada seorang berpakaian pangsi sedang mencuci muka dari kejauhan.
 (Penampakan yang membuat saya penasaran hingga berani mendekat. Diam-diam memotretnya)
Waw? Rasanya enggak percaya. Saya pikir air di sini kotor. Terdorong kepenasaran yang kuat, akhirnya saya dekati juga. Hasilnya? Sekian kalinya saya terpana. Ada aliran air bersih yang baru pertama kali saya lihat di antara aliran air yang kotor. 
Bertanya-tanya sih, dari mana asal aliran air bersih itu? Penginnya nanya sama orang yang ada di selokan itu. Tapi, saya sadar diri bisa berakibat fatal. Walhasil, saya pun berlalu bersama tekad, suatu saat saya harus ke tempat ini untuk mengamati masih adakah yang suka berada di tempat ini?
Di hari lain saya melewati tempat ini, memang tidak ada orang sama sekali. Tetapi, ada sesuatu yang membuat saya sekali lagi harus tercengang. Ada sebuah sabun mandi bekas tergeletak di dekat aliran air bersih yang pernah saya lihat. Tampak alur putih bekas penggunaan sabun mandi. 
(sabun mandi berwarna putih dan aliran air yang tampak jelas penggunaan sabun tersebut)
Ketiga kalinya, ini merupakan sebuah tanya besar bagi saya. Siapa orang itu? Mengapa menggunakan fasilitas di tempat yang orang hindari? Semoga saja saya memiliki sahabat atau teman yang berani bertanya dan menuntaskan kepenasaran saya. Ya, heran saja sih, di tengah kota begini masih ada orang seperti itu? Di mana keluarganya? Terus, kalau saya tahu banyak, apa yang bisa saya lakukan untuknya? Harapan saya, semoga dengan keterbatasan saya, tangan ini masih bisa terulur membantu sesama.
#curhat pribadi atas keprihatinan ketika mengamati tempat yang begitu “wah” bagi saya. Namun, hati saya sendiri malah terasa miris

Kamis, 04 September 2014

Jalan-Jalan Ke Ciater

Alhamdulillah dalam kegiatan silaturrahim dan halal bihalal guru-guru se-kota Bandung bisa menikmati perjalanan sekaligus keindahan dan kehangatan suasana di Ciater, meski sebenarnya di sana itu dingin. :)
(Tempat kita bertiga makan bubur ayam sebelum ke Ciater. Enak lho ada parutan kelapanya)
Naik angkutan umum dari terminal Ledeng dan turun pas banget di depan jalan lalu kita bertiga makan bubur. :)
(Jalan kaki dari seberang naik angkutan umum, melewati SDN GIRI MEKAR)
Tempat ini menarik perhatian saya. Bukan hanya karena saya seorang guru yang berada dalam dunia pendidikan. Namun, saya tertarik ketika melihat sekelompok anak belajar pencak silat. Membuat saya kangen dengan masa kecil saya sendiri yang pernah ikut Tajimalela. :)
(Suka sekali melihat keseriusan anak-anak pencak silat meski dari kejauhan)
(Gerbang Wisata Air Panas Alam Sari Ciater)
(Harga tiket masuk. Untuk area tertentu ada yang harus bayar lagi, lho.)
(Air di pancuran ini panas banget. Tapi asyik menikmatinya. Arena ini gratis)
(Curug Jodo, arena ini juga gratis)
(Banyak pengunjung asing. Terutama orang Arab. Katanya sih di sini ada juga tempat tinggal khusus bagi mereka. Sayangnya, saya tidak menyelidiki lebih jauh)
(Di dalam masjid ini nyaman sekali. Adem. Di pinggirnya ada kolam ikan).
Mengunjungi tempat ini menjadi anugerah bagi saya karena selain bisa menikmati alam, bisa menikmati rasanya berada di bawah air panas yang terasa asin, saya juga punya pengalaman seru yang tidak bisa diceritakan ketika seorang Arab memarahi anaknya sampai melempar sandal yang sedang dipakainya. #hhaa. (Nah, lho, cerita juga)







Bersatu Memandirikan Anak Luar Biasa

  Sebelum adanya pandemi COVID-19, setiap hari Selasa, mulai pukul 11.00 WIB hingga selesai, peserta didik SLB B Sukapura kelas tinggi, sebu...