Sabtu, 12 Juli 2014

Future Meter, Semua Orang Bisa Mengenali Diri Sendiri


Judul buku : Future Meter
Penulis : @PsikologPop
Penata isi : Baskom Studio
Penata kover : Baskom Studio
Penerbit : Gramedia Widiasarana Indonesia
Terbit : Jakarta 2014
Tebal buku : 230 halaman

Kamis, 10 Juli 2014 ketika saya ke Gramedia Trans Studio Mall, buku Future Meter ini masuk ke dalam jajaran Recomended Buku. Dari segi kover mungkin akan terlihat biasa, seperti jajaran buku lainnya. Namun ketika membuka isinya, lembaran dalam buku ini terasa unik akan kekhasannya berbingkai biru pada setiap pinggiran lembaran.
Jika anda membayangkan buku ini akan ada tentang shio, ramalan zodiak, kepribadian dilihat dari segi warna, golongan darah, primbon mimpi, atau ramalan bola kristal, maka bayangan itu harus segera dibuang jauh.
Membuka bagian setelah halaman judul, serentetan judul dalam daftar isi sugguh menarik perhatian. Semisal dari judul bagian 1, Tebak kepribadianmu dari Kover CD. Penasaran, kan, ada hubungan apa antara kepribadian dan kover CD? Apalagi ketika membaca halaman Your Future is Your Personality. Meski awal membacanya terkesan “abu-abu”, namun terselip pesan yang begitu dalam.
Masa depan ditentukan oleh apa yang kita lakukan hari ini. Berbagai ramalan tentang masa depan boleh saja dilakukan, tapi tidak ada yang menjamin apakah akan menjadi kenyataan atau tidak. “Bukan bintang-bintang yang menggenggam masa depan kita, melainkan diri kita sendiri,” begitu kata William Shakespeare. Sementara itu Winston Churchill berkata, “Kekuasaan atas masa depan adalah kekuasaan kita atas pikiran.” – halaman V –
Buku ini bukan buku teori psikologi seperti kebanyakan buku kepribadian. Buku Future Meter, Tes Seberapa Dahsyat Masa Depan & Kepribadianmu ini memuat 2 bagian.
Bagian 1, Kamu dan Kepibadianmu. Terbagi lagi ke dalam 16 sub bagian. Di bagian ini ada sejumlah kuis yang harus dijawab secara jujur kalau ingin mengetahui kepribadian kita sesungguhnya.
Bagian 2, Kamu dan Masa Depan. Di bagian ini terbagi lagi ke dalam 14 sub bagian. Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan secara jujur, maka diharapkan pengisi kuis akan mendapat pencerahan mengenasi masa depan.
Kunci mengisi setiap soal dalam kuis ini adalah jujur pada diri sendiri. Ya, tanpa kejujuran bagaimana mungkin kamu akan tahu kepribadianmu sendiri. Hal ini membuat kita lebih mengetahui diri sendiri. Tidak usah takut untuk jujur menjawab. Toh, tidak ada yang tahu selain diri kamu sendiri sebagai pengisi kuis.
Nah, setelah kita tahu tentang diri kita sendiri, tentu kita akan lebih tahu bagaimana cara pandang kita terhadap masa depan, dan akan menjadi apa kita di masa depan. Semua itu berawal dari kejujuran kepada diri sendiri. Karena tentu saja masa depan ditentukan oleh apa yang kita lakukan hari ini. Ramalan apapun bukan jaminan sesuatu itu akan menjadi kenyataan atau tidak. Namun, dengan mengenal diri sendiri, mengetahu apa yang kita inginkan. Bagaimana cara pandang kita, tentu membuat kita lebih tepat menentukan langkah untuk masa depan.
Jika kita melakukan tes psikologi di suatu tempat yang khusus dengan tenaga ahli khusus, maka mereka akan menampilkan apa kelebihan dan kelemahan kita berdasarkan hasil tes psikologi tersebut. Sehingga para psikolog bisa mengarahkan kliennya begini dan begitu.
Sedangkan buku ini benar-benar beda. Semua kuis dijawab sendiri, kemudian hasil dihitung sendiri, dan kesimpulan disimpulkan sendiri berdasarkan kaitan skor nilai dengan dominan banyaknya jawaban yang telah disediakan, untuk kemudian disesuaikan dan didaptkan hasil mengenai kepribadian kita.
Bahasa dalam buku ini sederhana, mudah dimengerti, dan mudah sekali untuk dijawab karena hanya meminta jawaban dari kejujuran kita. Buku ini cocok untuk remaja, dewasa, maupun siapa saja yang ingin mengetahui kepribadiannya.
Membaca buku ini, seakan saya menemukan banyak hal baru mengenai diri sendiri. Meski sempat terlintas, kayaknya akan lebih asyik kalau disebutkan dalam buku ini, sudah dilakukan penelitian selama berapa lama penelitiannya, atau menggunakan sample berapa orang penelitian dalam buku ini, sehingga tentu saja tingkat validitas keakuratannya lebih terpercaya.
Namun, bagaimanapun, mengisi buku ini sangat mengasyikkan. Dari mengisi kuis ini pengetahuan tentang kepribadian bertambah. Bisa jadi berhadiah persiapan untuk merancang arah masa depan.
_ Semoga bermanfaat _

(Resensi Ini Diikutkan dalam Lomba Indiva Readers Challenge (IRC) 2014

Kamis, 10 Juli 2014

Terminal Cinta Laila


Judul                           :  Laila
Penulis                         : Abrar Rifai
Desain Sampul            : Izzudin Abdur Rahim
Penata teks                  : Ide Kreatif Crew
Penerbit                       : PT. Aksara Bermakna
Terbit                           : Cetakan 1, Agustus 2012
Tebal                           : 242 halaman: 13,3 X 20 cm
ISBN                           : 978-602-18755-0-6
Pada bagian kover depan tertulis endorsement dari Mbak Helvy. Tentu ini menjadi sesuatu yang sangat menarik. Apalagi di atas judul Laila tertulis jelas Novel inspiratif.
Laila adalah sebuah cerita yang akan membawa kita pada ketulusan cinta. (Helvy Tiana Rosa)
Begitu melihat kover seorang akhwat (perempuan) yang begitu teduh, harapan saya begitu tinggi kalau novel ini akan bercerita tentang perjuangan seorang akhwat. Apalagi di kover belakang terdapat 5 endorsement menakjubkan dari mereka yang sangat terkenal. Saya mengira novel ini akan mengisahkan perjalanan kehidupan Laila dari awal hingga akhir kisah.
Di bagian awal memang menceritakan Laila sebagai seorang pengamen. Melalui pemaparan ekspositoris penulis menguraikan tentang Laila.
Laila adalah salah satu anak jalanan yang terlahir karena hubungan bebas antara lelaki dan perempuan jalanan yang banyak terdapat di berbagai terminal di Surabaya. Gadis itu tak pernah tahu siapa ayahnya. Ibunya juga tak bisa memastikan siapa ayah Laila di antara lelaki yang pernah bergaul dengannya. Tak seorangpun dari mereka yang dikenalkan padanya oleh ibunya, mau mengakui Laila sebagai anak. Jadilah Laila dikenal sebagai anake wong akeh (anaknya banyak orang), anak yang tidak jelas bapaknya. – hal.3—
Saya benar-benar tergiring untuk tahu akan seperti apa alur cerita kehidupan Laila. Namun, begitu membaca bab per bab berikutnya, lebih banyak menceritakan keseharian Umar bersama keluarganya dan juga perkuliahannya. Terutama kegelisah Umar, seorang mahasiswa, putra pengusaha dari seorang ayah berlatar pendidikan pesantren.
Umar yang begitu mencintai Laila, ingin memperistrinya, meski Laila telah menolaknya, namun Umar yakin Laila sebenarnya mencintainya. Sayangnya Umar tidak dapat menghubungi Laila lagi. Umar berusaha mencarinya meski berbuah kekecewaan. Umar yang tadinya dikenal sebagai mahasiswa periang berubah jadi pemurung.
 Membaca keseluruhan novel ini seakan sedang menikmati sepiring gado-gado super lengkap. Semua cerita ada, tertuang dalam novel ini. Yang pasti bumbunya satu, cinta. (Eh, bisa ditambah perjuangan, istiqomah, dan lainnya supaya makin sedap). Saya seakan diajak berkeliling menikmati panasnya Surabaya lengkap dengan suasana keagamaannya.
Rangkaian cerita dalam novel ini terasa unik. Lompat-lompat menceritakan kebersamaan Umar dengan keluarga dan teman kampusnya. Ketika bersama Intan, adiknya, Umar adalah sosok yang selalu mengalah, menghindari perdebatan.
Ketika bersama Farah, kakaknya, Umar saling berbagi cerita. Sebagai penikmat bacaan saya suka sekali dengan kedekatan dan keterbukaan adik kakak yang sama-sama dewasa ini. Apalagi ketika Farah sedang ta’aruf dan salah paham kalau calon suaminya itu penganut poligami, Umar hadir sebagai tempat berbagi. Sampai-sampai kedua adik kakak ini ke Taman Safari di Prigen berdua untuk melepas penat.
Dalam kisah ini ayah mereka berpoligami. Meski awalnya Umar dan Farah menolak tidak secara terang-terangan, namun akhirnya mereka bisa menerima kehadiran Tante Salma, istri baru ayahnya saat petaka Tretes mendekatkan semua anggota keluarga. Intan yang sebenarnya anak yang baik terseret arus pergaulan yang menyimpang. Hingga bolos sekolah dan kabur.
Berdasarkan informasi yang mereka dapatkan, Intan bersama Khairul, temannnya, sekaligus Putra Pak Barjo, rival bisnis ayah Umar, Intan dan Khairul pergi ke sebuah villa besar milik Pak Barjo yang ada di Tretes. Tempat yang sekarang Pak Barjo tinggali. Sayangnya, Umar dan ayahnya tidak menemukan Intan di villa ini. Intan dan Khairul mengalami kecelakaan sepeda motor dalam perjalanan hingga Intan dan Khairul sama-sama dirawat di ICU. Intan geger otak berat.
(Tuh, kan, ceritanya lompat-lompat. hehe)
Sejak kejadian Petaka Tretes, Umar menjadi bos PT. Rembulan Terang menggantikan ayahnya. Intan yang memerlukan perhatian menjadi fokus utama ayahnya untuk merawat putrinya. Hingga menyerahkan perusahaan kepada Umar. Tentu saja dibantu oleh orang-orang kepercayaan ayahnya.
Sebagai seorang bos, Umar menggagas aksi sosial pertamanya. Dengan sponsor penuh perusahaannya, Umar mengadakan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) antar mahasiswa se-Indonesia. Umar menggandeng LDK-LDK semua kampus, baik negeri maupun swasta di Surabaya sebagai panitian pelaksana.
Dan dalam perhelatan inilah Umar bertemu Hidayah Nazilah Mahabbah, gadis dari Jombang, juara 1 tilawah. Suara hati Umar mendesaknya bahwa itu adalah Laila. Tapi, rasio akal tetap mengedankan realita bahwa gadis itu bukanlah Laila.
Kalau kamu mau memastikan ia Laila atau bukan, lihat saja saat penampilannya. Suaranya sama gak dengan Laila?” begitu nasihat Mas Ihsan ketika itu. –hal 173—
Mas Ihsan, sebagai kakak angkatan di kampus, sekaligus tempat berbagi cerita, dan ingin sekali Umar taarufkan dengan Farah, tentu saja tidak ingin Umar menanggung malu hanya karena menebak-nebak sesuatu yang tidak perlu.
Begitu Umar mendapat informasi selengkap-lengkapnya dari seorang akhwat yang pernah menyatakan cintanya kepada Umar, teman sekampus sekaligus jadi dosennya juga –Nurul, Umar mengetahui kalau Hidayah Nazilah Mahabbah adalah Laila. Umar berusaha menjemput cintanya ke Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang.
Selama 4 tahun menempa diri, Laila berhasil merevolusi diri dari sebelumnya pengamen, penghafal lagu-lagu cinta picisan kemudian menjadi penghafal Al-Quran.
Laila sudah hafal 25 juz lebih, Mar.” Nurul menceritakannya padaku saat pertemuan kami di kantin kemarin.
Saya jadi mikir, kayaknya judul Laila kurang pas sama isi ceritanya karena Laila cuma numpang lewat di bagian awal dan bagian menjelang akhir hingga akhir. :)
Namun, secara keseluruhan novel ini memang inspiratif. Kentalnya dunia keagamaan sebagai latar keseharian dunia penulis benar-benar terasa, kejutan demi kejutan dan logika cerita yang saling bersambungan membentuk alur cerita yang sulit ditebak ujungnya. Meski paling ujung sebagai ending tentu sudah banyak yang bisa menebak (kalau enggak sedih, ya bahagia. Dan penulis memilih ending tertutup yang bahagia.)
Dengan tema perjuangan mempertahankan cinta, penulis tidak terjebak pada ending biasa. Biasanya seorang anak yang lahir dari ketidakjelasan, ujungnya masuk ke dalam kehidupan tak jelas pula.
Novel ini justru menjelang akhir ceritanya cukup mengejutkan. Ya, meski penulis seakan baru membangunkan tokoh Laila menjelang akhir cerita. Laila ini jadinya seperti tokoh cerita yang sengaja ditidurkan sepanjang jalan cerita. Mirip kali ya kalau kita berangkat dari terminal masih melek, sepanjang perjalanan tertidur, tahu-tahu dibangunkan karena sudah sampai tujuan (maksudnya, tokoh Laila diceritakan di bagian awal, tengahnya tentang Umar berserta keluarga dan teman-temannya di Kampus. Begitu menjelang akhir, eh tahu-tahu Laila muncul lagi.)
Bagaimanapun, novel Laila ini memang bacaan yang menginspirasi dengan alur dan ceritanya yang unik dan menawan. Membuat saya tahu bebeberapa tempat di Surabaya, selain kekuatan penulis dalam menyampaikan pesan secara halus melalui cerita dalam tulisan.
_ Semoga bermanfaat _

(Resensi Ini Diikutkan dalam Lomba Indiva Readers Challenge (IRC) 2014

Rabu, 09 Juli 2014

Princess Diva, Balas Dendam Erin Gendut


Novel ini sukses membuat saya terheran-heran sedari membaca episode satu. Pada judul Gank Coke, Sansan and the gank  mem-bully Erin gendut. Membuat Erin sakit hati dan bertekad balas dendam.
Diva si tomboy sendiri (saya kira sebagai tokoh utama judul novel ini), malah terkesan hanya tokoh numpang lewat berkarakter dingin, dengan nilai jelek padahal dia pintar. Namun demi kesetiakawanan Diva mau membantu Erin balas dendam.
Saya jadi bertanya-tanya, judulnya Princess Diva namun kenapa malah yang diceritakan lebih banyak porsi tokoh Erin? Oh, mungkin karena novel ini "Princess Diva The Series" kali ya. ( :) jawab sendiri. )
Begitupun episode dua, tetap masih banyak menceritakan tentang Erin yang ingin ikut pemilihan ketua kelas SMA Paradise. Bersaing dengan Sansan. Erin melakukan kesalahan fatal yang membuatnya diskors dua hari.
Sansan berkampanye dengan menampilkan kehidupan remaja-remaja di Jepang beraneka gaya, Harajuku style. Sedangkan Erin mempertontonkan tayangan ketika Diva menghajar keempat personil Gank Coke yang membuat suasana kelas heboh saat kampanye pemilihan ketua kelas.
Lagi, lagi, dan lagi masih menceritakan tokoh Erin. Episode ini menceritakan usaha Erin untuk menjadi langsing. Usaha keliru yang membuatnya roboh di depan Sansan. Dan membuat Diva salah paham, meminta Sansan bertanggung jawab membawa Erin ke rumah sakit.
Begitupun episode 4, masih menceritakan tentang Erin dengan perubahan drastisnya.
Berlainan dengan penampilan sebelumnya, kali ini Erin benar-benar tampil beda. Dia  mengenakan gaun panjang dengan aneka renda dan bunga-bunga, sepatu merah mengilat, serta kerudung yang hanya mirip topi dengan bunga ngejreng, senada dengan warna dominan gaun panjangnya. – hal. 44—
Bahkan Erin memoles wajahnya dengan dandanan kosmetik yang tebal, serta mengenakan jilbab artis.
Ujung-ujungnya Erin meminta bantuan Diva membayar semua yang dikenakannya dengan harga fantastis. :)
Nah, episode 5 hingga cerita dalam buku ini berakhir, baru menceritakan tentang penyebab Diva sebagai anak orang kaya yang memiliki kepribadian aneh. Sekaligus metamorfosis Diva dari yang tadinya tomboy hingga mengenakan jilbab.
Ending cerita ditutup dengan percakapan Diva setelah shalat subuh yang spektakuler dengan Erin melalui sambungan HP. Meski Diva merasa letih, lemas, dan tanda-tanda demam, namun di dadanya bergejolak kebahagiaan. Diva telah berjilbab rapi. Meskipun dengan jilbab pinjaman. Insya Allah selamanya. Semoga istiqomah. (Di bagian akhir ini kayaknya harapan penulisnya, deh. hehe. Pastinya harapan saya juga pada semua remaja muslimah.)
Meski saya sempat bingung, kenapa penulis awalnya lebih banyak menceritakan tentang Erin, dan tentang Diva secara khusus baru berada di bagian tengah hingga akhir, namun semua tokoh dalam kisah ini saling berkaitan satu sama lain.
Cerita dalam novel inipun berkaitan dengan empati ketika Diva menolong masyarakat korban banjir di Solo. Divandra Venayaksi Anderson atau Diva, begitu sempurna. Selain sebenarnya cerdas namun Diva tidak peduli akan kecerdasannya, kaya, juga perhatian, rela jauh-jauh dari Jakarta ke Solo menggunakan pesawat. Bahkan sepanjang perjalanan diguyur curahan hujan deras. Semua itu karena dia tidak bahagia dengan fasilitas orangtua yang semu dan teman-teman di sekolahnya.
Fenomena limpahan air berlebih yang menyerang tempat tinggal masyarakat benar-benar sering kita saksikan melalui berbagai media. Bahkan banjir di ibu kota negara ini tidak mengenal tempat dan waktu. Perumahan elit, tempat tinggal Sansan and the gank di Jakarta yang berharga sangat mengawangpun tak luput dari banjir.
Tema persahabatan dan pencarian jati diri remaja sampai kapanpun akan menjadi kisah menarik. Apalagi penulis dalam novel ini cergas menyampaikan pesan indahnya persahabatan, berhati-hati memilih teman dan berteman. Sebagai bacaan yang menarik, novel ini membuat remaja untuk mewawas diri.
Bahkan, setiap melakukan balas dendam, ada konsekuensi negatif yang kembali kepada diri sendiri. Masyarakat Bali menyebutnya dengan karma. Sedangkan dalam Islam tentu ada beberapa makna, bisa berarti ujian dan bisa juga sebagai hukuman. (Tergantung cara pandang yang menjalaninya mungkin ya. :) )
So, buat remaja yang sedang masa pencarian jati diri, pandai-pandailah mengendalikan diri agar tidak mudah tergoda arus kehidupan yang belum tentu cocok. 
_ Semoga bermanfaat _
Judul                           : Princess Diva
Penulis                         : Afifah Afra
Penyunting Bahasa     : Mastris Radyamas
Setting                         : Brader_LK
Desain Sampul            : Andhi Rasydan
Penerbit                       : Afra Publishing (Kelompok Penerbit Indiva Media Kreasi)
Tebal                           : 104 hlm.; 20,5 cm
ISBN                           : 978-602-8277-40-2
Cetakan Pertama, Jumadil Ula 1432 H./April 2011
(Resensi Ini Diikutkan dalam Lomba Indiva Readers Challenge (IRC) 2014  
 

Jingga dalam Elegi -Lanjutan "Jingga dan Senja"


Membaca beberapa karya Esti Kinasih selalu berhasil membuat saya terlarut. Ingin segera menuntaskan bacaan hingga selesai. Termasuk novel Jingga dalam Elegi.
Pada kover belakang saya tertarik dengan kalimat – kini saingannya bukanlah Angga, melainkan saudara kembarnya sendiri.
Persepsi saya mengawang pada persaingan dua orang saudara kembar yang memperebutkan seorang cewek bernama Tari. Ternyata, begitu membaca novel ini hingga tuntas, saya “kecele”.
Sebenarnya, di bagian tengah saya sudah bisa menebak kalau ada “sesuatunya” dengan si kembar Ari dan Ata. Namun kelihaian penulis memberikan kejutan pada beberapa kaitan peristiwa membuat saya ragu pada tebakan saya sendiri. Tetapi, dari sini akhirnya saya tahu ada logika cerita yang membuat ceria ini menjadi kurang masuk akal.
            Kisah sebelumnya, Ari terus mendekati Tari. Namun, nama buruk Ari membuat Tari tidak ingin berurusan dengannya. Tari mati-matian menjauhkan diri.
            Angga, cowok pentolan SMA Brawijaya, musuh bebuyutan SMA Airlangga sekaligus musuh pribadi Ari, langsung berusaha mendekati Tari begitu tak sengaja terjebak dalam tawuran dan Ari berusaha keras menyelamatkan Tari. Angga menduga kalau Tari pacar Ari. Demi dendam masa lalu, Angga bertekad merebut Tari.
            Saat berjalan-jalan di sebuah mal Tari bertemu Ari. Tapi ternyata itu Ata, saudara kembar Ari. Tari syok.
            Sementara sesungguhnya, sebuah rahasia Ari menempatkan Tari sebagai korban, tanpa sedikit pun Ata terlibat di dalamnya.
***
            Bagian 1 novel ini menceritakan usaha Tari menghindari ancaman Ari. Fio sebagai sahabat mengusulkan agar Tari menceritakannya kepada Ata. Melalui sambungan ponsel, Tari meminta bertemu Ata. Tari menguraikan kejahilan Ari kepada Ata.
            Keesokannya, Tari sengaja datang ke sekolah lebih lambat. Di halte, Tari terperangah melihat Ari. Karena takut terlambat, Tari mau dibonceng Ari sampai sekolah. Di sekolah Ari memberitahu Tari agar tidak perlu repot-repot ngumpet karena Ari cuma sampai jam keempat.
            Jam istirahat Tari menghubungi Ata tanpa hasil. Jam istirahat kedua, Ata lebih dulu menghubunginya. Tari menjerit keras mendengar pengakuan Ata. Tari sudah tidak punya rival, Ari sudah mundur.
            Untuk pertama kalinya Tari marah pada Ata karena menganggapnya penghianat, menceritakan keluhan Tari kepada Ari.
            Ata ke sekolah Tari. Tari dan Ata berargumentasi hebat. Menyadarkan Tari, meski berteriak-teriak benci  Ari, sebenarnya Tari justru mengerti sekali tentang Ari.
            Setelah pertemuan itu Tari melunak. Fio pun membantu Ata memperbaiki hubungannya dengan Tari. Namun, hari-hari kacau keburu datang. Ari kembali mengerjai Tari, mengubah tugas kimia Tari menjadi lukisan abstrak penuh warna. Terpaksa membuat Tari mengontak Ata untuk mengadu.
            Dua hari kemudian, Tari dan Ata melihat rumah Ari. Tari terpukau memasuki kawasan perumahan mewah. Apalagi ada taman di halaman depan rumah Ari. Penuh dengan bunga aneka jenis warna. Yang paling membuat Tari terpukau adalah bunga matahari. Serta arsitektur rumah Ari.
            Tari yang masih penasaran dengan rumah Ari mengajak Ata kembali melihat rumah Ari. Dan mereka berdua kembali ke tempat itu. Dari kebersamaan mereka, Tari memiliki momen istimewa, mengantarkan kepergian sang raja langit dengan mata telanjang.
            Cerita terus berlanjut. Tari dan Ata semakin dekat. Setiap ada apa-apa, Tari menelepon Ata. Hingga terungkap kenyataan besar yang telak menyakiti Tari. Ata dan Ari adalah satu orang yang sama.
            Tari berusaha menjauhi Ari. Sementara Ari terus berusaha memperbaiki hubungannya dengan Tari.
            Kepada Oji dan Ridho, Ari menceritakan semua kebohongannya. Kedua sahabatnya itu terus membantu Ari. Persahabatan yang sangat menggugah bagi saya secara pribadi karena mereka saling dukung.
Ada sesuatu yang rasanya kurang masuk akal dalam cerita ini, mamanya Tari sudah curiga sejak awal bahwa Ari dan Ata adalah satu orang. Sebagai seorang Ibu, bukankah selayaknya mengingatkan putrinya untuk berhati-hati? Menyelidiki, atau setidaknya mengingatkan putrinya agar kondisinya tidak “drop”, seperti kondisi Tari dalam cerita ini setelah mengetahui Ata dan Ari merupakan satu orang yang sama.
Selain itu, cerita ketika Ari datang ke tempat penjual mesin jahit yang kemarinnya didatangi Ata bersama Tari, terus petugasnya bilang sudah dibayar orang, yang ternyata dibayar Ata, rasanya juga kurang masuk akal. Entah penulis bermaksud membuat kejutan, atau menjebak pembaca untuk menebak-nebak hubungan Ata, Tari, dan Ari sebagai saudara kandung karena mamanya Tari juga seorang penjahit.
Namun, dibalik itu semua, novel bertema cinta ala remaja dan persahabatan ini menjadi bacaan menarik karena gaya bercerita penulisnya yang mengalir, penuh kejutan, memancing rasa ingin tahu, dan pesan tersembunyi bahwa setiap orang memiliki rahasia terpendam.

Judul               : Jingga dalam Elegi -Lanjutan "Jingga dan Senja"
Penulis             : Esti Kinasih
Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Umum
Tahun Terbit    : Februari 2011
Cetakan kedua            : Maret 2011
Cetakan ketiga            : April 2011
Cetakan keempat: Mei 2011
Cetakan kelima   : Juni 2011
Tebal                   : 394 hlm; 20 cm
ISBN 979-979-22-6647-4
           

Bersatu Memandirikan Anak Luar Biasa

  Sebelum adanya pandemi COVID-19, setiap hari Selasa, mulai pukul 11.00 WIB hingga selesai, peserta didik SLB B Sukapura kelas tinggi, sebu...