Selasa, 23 Desember 2014

Resensi Novel Apple Wish: Antara Cinta Remaja Dan Cita-cita Mereka


Judul                           : Apple Wish
Penulis                         : Alfian Daniear

Penyunting                  : Amida Nurrahmi
Perancang Sampul       : Teguh Tri Erdyan
Penata Letak               : Aldy Akbar
Penerbit                       : Ice Cube
Terbit                           : April, 2014
Tebal                           : viii + 192 hlm., 13X19 cm.
ISBN                           : 978-979-91-0709-1

Sinopsis : 

“Lihat!” Nathan mengangkat apel yang sudah tergigit itu ke depan wajah Yourissa.
“Kayak gini, nih, gambaran hati lo sekarang. Soak. Nggak usah ngelak. Gue tahu, kok.”
Yourissa menunduk. “Sorry. Aku mau pergi dulu.”

Nathan, penulis amatiran yang berprinsip anti-pacaran dan nilai sekolahnya berantakan. Yourissa, calon atlet bulu tangkis muda yang baru kehilangan cinta sekaligus gagal jadi juara. Takdir mempertemukan keduanya ratusan kilometer jauhnya dari kota asal mereka. Insiden berebut stop kontak mengawali perjumpaan Nathan dan Yourissa yang punya karakter bagai langit dan bumi. Siapa sangka, keduanya justru saling bantu menemukan jalan kembali menuju mimpi masing-masing. Saat cita-cita mereka terasa semakin dekat, Nathan dan Yourissa harus memilih, tetap melangkah mengejar mimpi atau putar arah mengikuti rasa yang diam-diam tumbuh tanpa permisi.


***

            Pada bagian awal ketika membaca prolog, saya kira novel ini akan menceritakan tentang Yourissa. Namun, begitu membuka bab pertama, cerita mengarah tentang Nathan dan impiannya menjadi penulis yang mendapat tentangan dari ayahnya.
            Nathan, mempunyai impian besar, bertekad menjadi penulis novel fantasi yang menembus #1 New York Times Best Seller. Baginya, menulis lebih penting daripada sekolah. Berbeda dengan pendapat orangtuanya yang menomorsatukan bangku sekolah.
            Saat liburan tiba, notebook milik Nathan rusak dan membuatnya tak bisa menyelesaikan naskah tulisannya. Akhirnya ia pergi berlibur ke Malang untuk menyelesaikan tulisannya dan menghindari omelan orangtuanya.
            Di Malang, Nathan bertemu Yourissa. Yourissa yang malang karena saat pertandingan penting untuknya, ia malah putus dari pacarnya. Dan kalah dalam pertandingan. Bertekad melupakan mantan pacarnya, Yourissa pergi ke kota yang sama dengan Nathan.
Di kota Malang inilah mereka menjalani cerita yang perlahan membuka cerita mereka masing-masing dan menumbukan rasa di hati mereka. Mereka saling menyemangati untuk terus mengejar impian.
Berkat kebersamaannya dengan Yourissa, Nathan dapat menyelesaikan naskah novelnya untuk sebuah perlombaan. Begitupun dengan Yourissa yang mendadak mendapat telepon dari pelatihnya di klub untuk mengikuti seleksi masuk pelatnas junior. (Bagian ini membuat saya merasa seakan ini cerita sisipan dadakan karena sebelumnya tidak ada gambaran tentang hal ini. Tahu-tahu kisah ini ada.)
Namun, novel yang secara halus berpesan untuk tetap memperjuangkan impian ini, menanamkan keyakinan kepada pembacanya untuk berusaha terus dan tidak menyerah atau putus asa sebelum impian dapat diraih, merupakan novel yang asyik dan menarik untuk dibaca remaja karena ceritanya yang ringan, sederhana, namun memiliki beberapa quote yang bisa menancapkan keyakinan untuk pembaca remaja.
Jika kamu punya mimpi jangan pernah takut untuk mengucapkannya. Yakini itu selalu.” - Hal.165 -

Resensi Novel We Quit Us: Masih Cinta Ataukah Hanya Cemburu?


Judul                            : We Quit Us
Pengarang                   : Ria Destriana

Penyunting                  : Nilam Suri
Perancang Sampul       : Dwi Anisa Anindhika
Penata Letak Isi           : Aldy Akbar
ISBN                            : 978-979-91-0697-1

Ukuran                         : 216 hlm., 13X19 cm
Cetakan Pertama          : Maret 2014
Penerbit                       : Ice Cube (Imprint Kepustakaan Populer Gramedia )


Sinopsis
“Kenapa? Bukannya dia suka sama kamu? Aku bisa tahu dari cara dia melihat kamu.”
“Iya. Dia suka sama aku. Tapi dia tahu kalau aku lebih suka sama kamu….”

Sara dan Ryan. Dua orang yang saling menyayangi ini memutuskan untuk berpisah karena sering bertengkar. Mereka mengira semua akan berjalan baik-baik saja. Tidak ada drama putus cinta yang akan mengikuti kehidupan sehari-hari mereka.
Sampai suatu hari, ketika Sara menggandeng Bona, cowok cakep sekolah sebelah, di depan Ryan. Ryan marah, tidak terima kalau Sara sudah bisa melupakan dirinya. Dia pun memutuskan pacaran dengan murid baru yang imut dan cantik, Lala.
Aksi pamer kemesraan pun mewarnai kehidupan sekolah mereka. Tidak ada yang mau mengalah, mereka saling menyerang. Ryan yang selalu terlihat bareng Lala dan Sara yang selalu diantar jemput oleh Bona.
Namun, entah mengapa ketika malam hari tiba rasa rindu pun ikut menyergap…
--
Salah satu Seri Bluestroberi Ice Cube Publisher, lini remaja dari Penerbit KPG ini berhasil membuat saya terkagum-kagum dengan penulis muda zaman sekarang. Betapa pandainya mereka merangkai cerita dan kata sesuai usia dan masa kehidupan mereka.
Cerita tentang perjuangan dua remaja untuk move on dari mantan kekasihnya ini akhirnya menimbulkan konflik demi konflik secara beruntun.
Sara mau saja untuk mengenal Bona lebih jauh. Bona yang merupakan anak sekolah dari sekolah sebelah ini diperkenalkan oleh Naya, teman sekolah Sara. Naya dan Sara menganggap Bona berbeda jauh dengan Ryan. Bona digambarkan sebagai seorang lelaki remaja yang serba sempurna dan idaman para gadis. Menurut Sara, Bona kapten basket sekolahnya yang menarik dan imut.
Sedangkan Ryan biasa saja dan sering membuat Sara marah. Begitu usai membaca novel ini, barulah saya tahu kalau mereka berdua marahan itu karena sering berprasangka buruk kepada lawan jenisnya tanpa konfirmasi terlebih dahulu langsung marah-marah.
Ryan yang melihat kedekatan Sara dengan Bona merasa cemburu.
Ito dan Andi berusaha menunjukkan gadis-gadis cantik kepada Ryan, namun sama sekali tidak tertarik. Hingga muncullah tokoh Lala sebagai pacar baru Ryan di sekolah.
Ketika Ryan dan sahabatnya berada di cafe, munculah Sara dan Bona. Ketegangan antara Sara dan Ryan memuncak. Membukakan mata mereka untuk balikan seperti dulu.
Kenyataan yang mereka dapati setelah putus nyambung ini begitu berbeda. Membuat mereka harus introspeksi, benarkah mereka masih saling mencintai atau mereka selalu bersitegang karena cemburu?
Ada hal yang membuat saya merasa janggal menjelang bagian akhir karena kurang terbangun dari awal. Ketika Ryan lupa akan janjinya jalan-jalan bersama Sara. Ini terasa dadakan, karena sedari awal hingga ke tengah cerita, sama sekali tidak digambarkan kalau Ryan penyuka game hingga sering melalaikan waktu.
Dan ada lagi salah nama pada karakter cerita pada dua halaman. Dan menurut penulis yang saya kenal di dunia maya, hal seperti ini sangatlah berbahaya. Bukan hanya typo tapi spasinya juga kurang menjorok, seakan pengaturannya kurant teliti.
Kutipan ini halaman 132:
“Ada apa, La?” sambut Ryan dari depan pagar rumahnya. “Tumben main ke rumah malam-malam begini.”
            Ryan mngajak Sara masuk dan duduk di bangku teras. “Kamu mau minum apa?”
            “Thanks, Yan. Aku cuma sebentar,” tolak Lala.
            Dan pada halaman 191, percakapan Sara dengan Ryan, Sara berganti menjadi Sari.
Terlepas dari hal tersebut, cerita ringan ini menarik dengan kekhasan tersendiri. Setiap di bawah hujan, kedua tokoh ini memiliki cerita yang mengiringi kehidupan mereka berdua.

Resensi Novel Ciuman Di Bawah Hujan: Antara Politik, Cinta, Dan Kekuasaan


Judul              :  Ciuman Di Bawah Hujan
Penulis           : Lan Fang
Desain & ilustrasi sampul: Eduard Iwan Mangopang
Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama
Terbit             : Maret 2010
Tebal              : 360 hlm; 20 cm
ISBN               : 978-979-22-5528-7
Sinopsis:
Politisi identik dengan orang-orang ambisius dalam meraih kekuasaan. Tidak jarang dengan menghalalkan segala cara. Tetapi Yukio Hatoyama, perdana menteri Jepang yang mulai menjabat 16 September 2009 mempublikasikan filsafat yang sulit dipahami apalagi diterapkan, yaitu: politik itu cinta. 
Mungkinkah?
Novel ini bercerita tentang Ari, politisi bermata matahari yang tidak pernah mampu menangkap asap. Juga tentang Rafi, politisi berkaki angin yang terjebak basah gerimis. Dan tentang Fung Lin yang menantikan laki-laki yang akan menciumnya di bawah hujan. 
Dengan rasa setia kawan, tanggung jawab, pengorbanan, kerinduan dan pengharapan, Ciuman di Bawah Hujan menerabas dunia politik, dunia tanpa ampun itu.
Review:
Saya sangat suka ketika membaca bagian awal buku ini. Pada bagian Bebuka, ada ungkapan-ungkapan dan beberapa referensi tentang sisi psikologis. Saya seakan merasa penulis sedang kondisi “galau”. Dan berusaha mengenyahkan kegalauannya dengan menulis.
Maka saya berusaha menyelamatkan diri dari sakit yang bertumpuk dengan cara menulis. Saya menggali semua inti diri dan mengumpulkan orang-orang luar biasa:...
... saya menulis terus tanpa memedulikan apakah saya menulis dengan sadar atau tidak sadar. Sampai ketika semuanya terangkum dalam Ciuman di Bawah Hujan, saya sendiri tidak bisa lagi membedakan yang mana kejadian dan tokoh-tokoh saya yang fakta atau yang fiktif. - hal 8
Hampir tak percaya ketika membaca status teman di FB kalau penulis ini sudah meninggal, 25 Desember 2011 di RS Mount Elizabeth Singapore sehingga Novel Ciuman di Bawah Hujan menjadi karya terakhir kepenulisannya. Dalam usia 41 tahun harus menghembuskan napas terakhir di alam fana ini karena kanker hati.
Menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya untuk menulis review buku dari penulis yang telah menulis puluhan cerpen, buku anak, dan 9 novel yang diterbitkan penerbit-penerbit besar Indonesia. Apalagi saya pernah membaca cerpen berjudul Festival Topeng, karya Lan Fang yang membuat terpesona. Balutan kisah politik yang super apik dalam sebuah cerpen. Saya seakan menikmati suguhan cerita kehidupan sehari-hari tentang seorang perempuan yang mempunyai ambisi menjadi orang kaya, padahal nyatanya cerpen tersebut merupakan kisah politik.
Ciuman Di Bawah Hujan ditulis Lan Fang dengan sepenuh jiwa. Sebuah novel poilitik berbalutkan kisah roman tentang kisah cinta Fung Ling, gadis Tionghoa yang berprofesi sebagai jurnalis yang menantikan laki-laki yang akan menciumnya di bawah hujan.
Awalnya saya terkecoh dengan kedekatan Fung Lin sebagai tokoh utama dengan Ari sebagai anggota dewan. Saya kira sepanjang cerita akan bercerita kisah cinta mereka berdua. Ternyata, ceritanya lompat-lompat. Fung Lin sering teringat kebersamaanya dengan Anto, teman semasa kuliah dulu. Fung Lin sendiri tidak bisa menuntaskan kuliahnya karena ada musibah yang melanda keluarganya.
Kedekatannya dengan Ari membawa Fung Lin berkenalan dengan Rafi seorang anggota DPR. Kisah asmara mereka berdua unik sekali. Pembaca diajak untuk benar-benar mengenal tokoh Fung Lin sebagai pengkhayal.
Jujur, awalnya saya bingung ketika tikus-tikus yang sudah mati hidup kembali. Sekaligus salut dengan kehadiran Rafi yang seakan menyaksikan apa yang ada di hadapan Fung Lin. Saya kemudian berpikir, mungkin ini ceritanya filosofis dari kehidupan dunia politik. Saya masih menebak-nebak maksud dari bagian ini. Meski saya sendiri menggambarkannya sebagai kehidupan politikus yang setelah usai masa jabatannya bisa kembali menjabat andai terpilih. Dan perilaku mereka, mungkin digambarkan dengan tikus. Bangkit lagi dengan kekuasaan baru yang dapat menghidupkan sesuatu yang sudah “mati”, kemudian menggerakkannya kembali dengan kekuasaan yang mereka miliki.
Di novel ini Ari dan Rafi sama-sama menerabas dunia politik. Lan Fang cergas memasukkan realitas politik mengenai perilaku maupun kinerja anggota dewan. Lan Fang membuat tokoh-tokohnya benar-benar hidup karena ada beberapa bab yang terasa lompat-lompat menceritakan masing-masing tokoh.
Novel ini istimewa karena novel pertama yang saya baca tentang politik, cinta, dan kekuasaan yang dimiliki seorang anggota dewan secara tidak langsung. Memerlukan perenungan tersendiri untuk menikmati novel ini. Sebagai novel roman, penulis berhasil menghidupkan keadaan sekitar dengan kata-kata puitis menjadi satu kesatuan yang utuh membentuk kisah cinta dalam dunia politik.
Novel fiksi dewasa yang ke sembilan ini, seakan menggambarkan akhir perjuangan tokoh yang sungguh-sungguh ingin mencapai angka yang dipercayainya sebagai angka puncak dengan harapan, semoga menulis akan menjadi cara berkarya untuk keabadian. Dan harapannya terwujud. Tanggal 25 Desember 2011, beliau meninggal namun harapannya terwujud. Buku yang saya review ini menjadi satu buktinya.
-Doa yang terbaik untukmu di sana, duhai penulis yang berhasil mewujudkan impiannya.

Senin, 22 Desember 2014

Resensi Novel Mei Hwa Dan Sang Pelintas Zaman: Kisah Cinta Dua Masa


Judul                            : Mei Hwa Dan Sang Pelintas Zaman
Penulis                         : Afifah Afra
Penyunting Bahasa     : Ayu Wulan
Penata Letak               : Puji Lestari
Desain Sampul            : Andi Rasydan
Penerbit                      : Penerbit Indiva, Solo
Cetakan pertama, Safar 1435 H./ Januari 2014
Jumlah Halaman        : 368 halaman
ISBN                          :  978-602-1614-11-2
Buku ini membuat saya jatuh hati pada pandangan pertama. Kover depan menurut saya sangat menarik. Anehnya saya menggambarkan kover ini dengan sesuatu yang tenang dan nyaman. Berbeda ketika membaca kover bagian belakang. Gejolak masalah sudah terasa sedari awal memegang novel ini. Sinopsis yang membuat saya penasaran dengan isi di dalamnya.
          “Dia korban pemerkosaan,” bisikan seorang lelaki berjas putih itu menyakiti hatiku.
          Korban pemerkosaan. Aku mengerang. Meradang. Seakan ingin memapas sosok-sosok beringas yang semalam menghempaskan aku kepada jurang kenistaan.
          “Kasihan dia,” ujar lelaki itu lagi, samar-samar kutangkap, meski gumpalan salju itu menghalangi seluruh organ tubuhku untuk bekerja normal seperti sediakala.
          Kenapa?”tanya seorang wanita, juga berpakaian serba putih.
          “Rumahnya dibakar. Tokonya dijarah. Ayahnya stres, masuk rumah sakit jiwa. Dan ibunya bunuh diri, tak kuat menahan kesedihan.”

Awalnya, saya sempat merasa pening membaca beberapa bab novel ini karena pergantian sudut pandang yang terasa melompat-lompat dari masa ke masa. Dengan sedikit paksaan tekad kuat untuk menuntaskan novel ini, akhirnya tuntas juga melahap sajian kisah tentang dua orang perempuan berbeda zaman, Mei Hwa dan Sekar Ayu.
Mei Hwa merupakan gadis keturunan China yang serba sempurna. Cantik, pintar, calon dokter hebat yang berkuliah di universitas ternama di Indonesia, dan keluarganya pun sempurna sebelum kejadian tragedi kerusuhan 1998 yang menghancurkan segalanya termasuk kehidupan Mei Hwa. Mei Hwa pun menjadi korban pemerkosaan yang biadab. Serta kehancuran lain keluarganya. Sangat tragis sekali ketika kebahagiaan harus terkoyak tragedi mengenaskan.
Musibah yang menimpa keluarga dan dirinya membuat jiwa Mei Hwa terganggu hingga harus dirawat di RSJ.  Saat melarikan diri, Mei Hwa bertemu dengan sang pelintas zaman, Sekar Ayu.
Menjelang akhir cerita barulah saya benar-benar dapat memahami isi novel ini dengan baik. Serta hubungan antara semua tokoh dengan jelas. Sekar Ayu merupakan sosok cucu Kiai Hadramaut dan berdarah bangsawan. Usia 7 tahun Sekar Ayu menjadi korban tindak asusila yang dilakukan oleh tentara Jepang. Setelah berhasil melarikan diri nasibnya tetap kurang beruntung. Cerita demi cerita hitam harus dijalaninya. Hingga suatu saat Sekar Ayu menyesali perbuatannya seumur hidupnya.
Dan pada bagian ending, saya sangat terperangah. Betapa apik, mulus, dan lihai penulis mengemas semuanya hingga menjadi cerita yang utuh membentuk satu kesatuan tak terpisahkan. Ending yang seharusnya bahagia malah terasa mengharu biru ikut merasakan kebahagiaan sekaligus duka para tokohnya.
Menarik napas lega begitu berhasil menuntaskan isi buku ini. Banyak hikmah yang bisa saya petik, di antaranya terus memperjuangkan kehidupan meski memiliki latar belakang kisah pahit dan tak mengenakkan sekalipun (berkaca pada tokoh Mei Hwa).
Entah apa sebutannya untuk novel ini, apakah novel romance berbalut sejarah? Ataukah novel sejarah berbalut kisah cinta. Sepertinya lebih kuat dalam kisah cintanya karena bagi saya sendiri selama mengikut sajian alur, plot, dan konflik-konflik dalam novel ini kisah sejarahnya hanya sedikit sekali. Seakan sekilas- sekilas saja. Bahkan terasa ada beberapa unsur kebetulan yang masih menyisakan tanya dalam benak dengan hadirnya tokoh tambahan namun tidak ada dalam kisah sedari awal hingga ke tengah cerita. Bagaimana kehidupan dan hubungan tokoh ini sebenarnya dengan Mei Hwa.
Lepas dari semua itu saya menikmati pesan untuk berempati kepada sesama meski dalam kisah novel sekalipun. Bisa jadi, ada orang seperti itu di sekitar kita yang sedang menutup diri dan memerlukan bantuan. :)

Sabtu, 20 Desember 2014

Cinta Hadir Tanpa Pernah Diduga


Judul                                       : Unplanned Love
No. ISBN                                : 9786020248585
Penulis                                     : Jenny Thalia Faurine
Penerbit                                   : Elex Media Komputindo
Terbit                                       : September 2014
Jumlah halaman                       : 308 halaman
Kategori                                  : Romance

Sinopsis:
Unplanned Love, cinta yang tidak direncanakan. Yang dimulai dari menghilangnya Cyntia, sahabat Runa. Runa harus bertemu dengan Seta, mantan tunangan Cyntia yang memaksa Runa untuk menggantikan posisi Cyntia sebagai tunangannya. 

Ternyata terlalu banyak kebencian di hati Seta yang membuatnya tega memperlakukan Runa seperti itu. Runa stres, dia lalu berusaha melarikan diri sambil mencari keberadaan Cyntia, tetapi Seta selalu berhasil mengikutinya. Runa tersiksa dengan kehadiran Seta, ditambah dia harus menyelesaikan naskah yang sudah diberikan deadline oleh sang editor. Rasanya Runa hampir gila dengan semua ini.

***
Secara keseluruhan, cerita dalam novel ini begitu sederhana bertema cinta seperti kisah romance pada umumnya. Keunikannya terletak pada bumbu persahabatan Runa sebagai tokoh utama dengan Cyntia yang tiba-tiba menghilang. Membuat Runa merasa kesal karena sering ditagih oleh debt collector dengan kasarnya.
Runa makin kesal ketika Seta datang ke apartemennya untuk melamar. Padahal mereka berdua sama sekali belum saling kenal. Seringkali tiba-tiba Seta datang dalam kegiatan Runa. Sering kali pula Runa membentak Seta bahkan menyebutnya dengan "setan".
Sekuat-kuatnya dinding pertahanan seorang Runa, akhirnya kalah juga oleh perjuangan Seta. Meski belum sepenuhnya percaya kepada Seta, tetapi dalam hatinya sudah muncul getaran halus. Runa curiga dan menganggap Seta aneh. Kenapa harus Runa yang menggantikan posisi Cyntia menjadi tunangan Seta?
Akhirnya terkuak juga kalau Seta ingin balas dendam terhadap Cyntia, Ibu, dan Ayah tirinya. Runa sedih mengetahui hal ini. Hingga akhirnya Runa terus menjauhi Seta. Berusaha kembali tenggelam dalam aktivitasnya untuk melupakan Seta.
Sedangkan Seta sendiri mulai menyadari perasaannya. Semua bayangan tentang Runa dan kebersamaan mereka telah membuatnya jatuh cinta. Seta berjuang kembali untuk mendapatkan Runa.
Cerita yang sederhana mengalir dengan indah serasa menonton film remaja.

Semoga bermanfaat –
(Resensi Ini Ditulis untuk Mengikuti Lomba Indiva Readers Chalenge 2014)


Pertemuan 2 Orang Pemain Game Online di Dunia Nyata

Judul Buku : A Piece Of Love In Korea
Penulis : Deasylawati P
Penyunting : Puteri Arfan Al-Ahmady
Penerbit : Gizone Books (Kelompok Penerbit Indiva Media Kreasi)
Terbit : Cetakan Pertama, Rajab 1433 H./ Juni 2012
Ketebalan : 288 halaman
Ukuran : 14 cm x 20,5 cm
ISBN : 978-602-8277-66-2


Seorang teman dari FLP Jatinangor membuat saya penasaran ketika bercerita karya-karya Deasylawati. Akhirnya, saya mencari tahu dan pas sekali sedang ada promo di Toko Buku Afra. Dari judulnya, “A Piece Of Love In Korea” saya sudah penasaran. Meski begitu ketika mendapat novel ini kesan saya tampilannya biasa saja, tapi isi tulisannya unik sekali.
Pada bagian awal saya digiring mengenal Jun alias Junaedi. Nama kerennya Joon Ai Dee. Jun bersama keluarganya dan kehidupan pribadinya sebagai seorang petugas rental komik dan majalah, sekaligus VCD/ DVD yang diberi nama Open Book (OB). Tentu saja selain Jun seorang mahasiswa yang enggak lulus-lulus kuliahnya.
Antara iseng dan serius Jun mengikuti kuis tebak-tebakkan di sebuah tabloid remaja. Pertanyaannya seputar artis Korea beserta beberapa pertanyaan tentang Korea. Isengnya Jun beneran berhadiah ke Korea.
Berbekal semua perlengkapan milik anggota keluarga tanpa izin (kecuali pamit melalui selembar surat) Jun berangkat ke Korea. Jun yang pelupa memakai sandal jepit dari Indonesia sampai ke Korea. Padahal ketika itu sedang musim dingin di Korea. Selama di pesawat Jun bahkan muntah-muntah. Bukan hanya ini saja, tapi masalah besarnya baru saja dimulai ketika Jun sampai Korea. Tasnya berisi dokumentasi dan barang-barang penting hilang entah ke mana.
Cerita yang awalnya beralur tenang, perlahan mulai bergerak berliku-liku. Menemani perjalanan Jun di Korea sekaligus menguak masa lalu Jun dan gadis pujaannya, seorang pemain game online 8 tahun lalu.
Jun menyangka kalau Freya itu adalah F1, lawannya bermain game online 8 tahun lalu. Sekaligus pacar virtual-nya di dunia maya. Jun sempat patah hati karena Freya menikah dengan Dafin, sahabatnya sekaligus pemilik rental OB.
Kenyataan terkuak ketika Freya dan Dafin berada di Korea. Mereka bertemu Erin dan Jun (setelah Jun dinyatakan hilang dan ditemukan polisi serta pihak kedubes). Mereka bertemu satu sama lain di tempat berbeda. F1 bukanlah Freya melainkan Erin. Ketika SMA, Erin dan Freya bersahabat. Erin sering menggunakan nama samaran sahabatnya.
 “Dan nickname teman kamu itu di dunia maya?”
“F123 Y.” Lantas Freya nyengir cepat-cepat. “Iya sih kalau dibaca memang jadi ‘Frey’, mirip namaku kalau ditambah ‘A’ ya?”
Percakapan Dafin dan Freya – Hal. 251 –
Makin memahami isi bacaaan dari awal menjelang akhir, justru cerita makin menarik bagi saya. Semua alasan Erin menjadi pekerja di tempat hiburan, meninggalkan Jun sendirian ketika digiring polisi ketika Jun di Korea dan masa lalu mereka ketika SMA.
Ini benar-benar bertolak belakang dengan perjanjian awal mereka dulu kala....
Aku akan menunggumu hingga saatnya tiba. - Hal 281 -
- Semoga bermanfaat –
(Resensi Ini Ditulis untuk Mengikuti Lomba Indiva Readers Chalenge 2014)


Sabtu, 06 Desember 2014

Menulis Cerita Anak Dari yang Terdekat

Artikel ini pernah dijadikan pengisi di Saung Penulis Grup Pena Nusantara di FB. Respon pembaca, alhamdulillah ada juga yang secara langsung menyampaikannya melalui lisan ketika berjumpa. Dan ada juga yang mengungkapkannya via inbox FB.


Cerita Anak Cerita Kita
Oleh Susanti Hara Jv

Dunia kanak-kanak kita, dunia yang penuh imajinasi. Sayangnya, makin beranjak dewasa dunia imajinasi pun perlahan terkikis logika. Hingga jalan pikiran yang masuk bernama logika ini lebih menguasai keseharian dengan pernyataan masuk akal atau tidak, maupun benar dan salah.
            Cerita anak yang kita tahu cukup luas, berkembang dari ide imajinasi maupun pengalaman penulisnya ketika masih kanak-kanak. Jadi, sebenarnya tidak ada alasan bagi seseorang untuk berkata, “Saya tidak bisa menulis cerita anak”. Toh, kita diberi akal pikiran, daya khayal, dan pengalaman masa kecil.
Dari pengalaman masa kecil setiap orang yang berbeda, tentu akan menghasilkan tulisan dan kesan berbeda pula. Perbedaan cerita pengalaman masa kecil inilah yang akan menjadi keunikan dan pembeda setiap tulisan cerita anak.
            Untuk mempermudah menulis cerita anak, mungkin ada baiknya kita mengenal beberapa hal:
1.    Bahasa atau kalimat dalam cerita anak haruslah sederhana dan mudah dimengerti. Sedewasa apapun penulis, harus “ikhlas” memasuki dunia anak dan menulis sesuai karakter dalam dunia anak-anak. Hingga anak-anak pun mudah memaknai apa yang dibacanya.
2.    Cerita Pendek (Cerpen) Anak yang sekali tuntas dibaca anak, tentu akan berbeda dengan novel anak yang berlembar-lembar. Menulis cerpen hanya ada satu masalah dan selesai dengan pemecahan masalah.
Sedangkan menulis novel anak, penulis harus cerdas menuangkan beberapa masalah ke dalam cerita dan menyelesaikannya dengan cara yang cergas. Meski akhir cerita dalam novel dibuat “menggantung” sekalipun untuk terus mengasah daya pikir si kecil.
3.    Ide atau tema cerita anak harus sesuai dengan anak-anak, meski mengangkat tema atau ide yang berhubungan dengan orang dewasa. Misalnya saja, perceraian kedua orangtua, harus dari sudut pandang anak.
4.    Konflik atau masalah dalam cerita harus ada penyelesaian sebagai bahan pembelajaran untuk anak.
5.    Kesan dalam cerita harus mendalam agar anak dapat memaknai cerita, merasakan adanya masalah hingga penyelesaian. Tanpa terasa mereka belajar pesan moral dalam cerita secara halus. Tanpa ada kesan cerita menggurui.
6.    Dalam cerita anak harus diusahakan menggunakan kalimat positif, paragraf pendek, kejelasan tokoh, tempat, dan deskripsi pendukung lainnya, agar anak dapat membayangkan dan masuk ke dalam cerita yang sedang dibacanya.
Seperti dalam film anak-anak yang begitu banyak tayang di televisi. Karakter, latar dan ceritanya sangat jelas hingga anak menyukai tayangan tersebut. Meski sebenarnya, orangtua harus hati-hati dan mendampingi anak ketika menonton agar tidak meniru hal-hal negatif, serta terus belajar mengambil hikmah positif tontonan yang dilihatnya.
7.    Cerita anak tidak hanya melulu cerita di sekitar keseharian mereka. Dunia mereka yang penuh imajinasi harus kita asah ke arah masa depan. Bukan hanya dengan fabel atau legenda, tetapi dengan cerita futuristik dan cerita misteri.
8.    Cerita futuristik yaitu cerita yang dipenuhi dengan khayalan masa depan. Tidak ada sihir, bukan raksasa di tengah hutan yang banyak menelan korban penduduk sekitarnya, tetapi makhluk asing dari planet lain yang dikenal anak sebagai alien, ataupun cerita yang berhubungan dengan masa depan lainnya.
9.    Cerita misteri, cerita yang mengandung sesuatu yang belum jelas, penuh dengan teka-teki, ada rahasia besar yang harus diungkap sehingga membuat pembaca penasaran.

Hal-hal tersebut mungkin akan dianggap sederhana. Ternyata menulis cerita anak tidaklah sesulit sangkaan kita. Cerita anak merupakan cerita kita di masa lalu. Cerita dimana seseorang belajar berbicara, berjalan, bergaul lebih luas dengan lingkungannya, serta memaknai kehidupan dengan sudut pandang kanak-kanaknya.
Diri kita sendirilah kunci menulis cerita anak. Kok bisa? Tentu saja. Kalau kita mau memasuki kepenulisan cerita anak, tetapi kita hanya diam saja tanpa melakukan apapun, tentu hanya menjadi khayalan belaka tanpa kerja nyata.
Jadi, mari kita bersama-sama menulis cerita anak dengan hati. Membuat cerita anak yang menginspirasi. Hingga menjejakkan pesan bagi anak dalam memengaruhi kehidupan positif mereka.

Semoga bemanfaat.
Salam.

Bersatu Memandirikan Anak Luar Biasa

  Sebelum adanya pandemi COVID-19, setiap hari Selasa, mulai pukul 11.00 WIB hingga selesai, peserta didik SLB B Sukapura kelas tinggi, sebu...