Jumat, 31 Mei 2013

Resensi Novel Bukan Donat Biasa



Murid SD Abad 21
 
Judul : Bukan Donat Biasa
Genre : Novel Anak (Junior Chef)
Penulis : Erna Fitrini
Ilustrasi sampul dan isi : Asep dan Dadi
Penyunting naskah : Dadan Ramadhan dan Beby Haryanti
Penerbit : DAR! Mizan
Cetakan 1, Shafar 1433 H/ Januari 2012



Bacaan menarik setebal 200 halaman ini memberikan gambaran pendidikan murid Sekolah Dasar (SD) abad 21. Murid SD harus melek teknologi. Guru bukanlah lagi sumber ilmu seperti penceramah. Namun, guru menjadi pendamping siswa dalam proses pembelajaran. Guru sebagai penentu apa yang dipelajari siswa.
Halaman 29: Setiap murid kelas 5 dan 6 SDN Pavo 7 memang memiliki blog. Ketika itu guru TIK yang mengajarkan cara membuat blog. Murid-murid bebas mengisi blog dengan segala macam cerita. Untuk murid-murid yang tidak punya akses internet di rumah, mereka bisa bergantian menggunakan internet di sekolah. Guru BK kemudian memaksimalkan penggunaan blog ...
Novel ini menceritakan tentang kegigihan Alvaro, atau biasa dipanggil Aro. Setelah pembagian rapor, siswa kelas 5 SDN Pavo 7 harus menyelesaikan tugas untuk mulai menjadi pengusaha.
Di halaman 43, Aro membayangkan menjadi pengusaha kaya. Punya banyak rumah, mobil, pabrik di seluruh kota, dll.
Saya jadi bertanya-tanya, dari mana Aro tahu semua bayangan itu? Padahal, di bab sebelumnya hanya diceritakan Pak Kepala Sekolah membawa dua orang tamu istimewa. Dan memberi pesan untuk menjadi pengusaha sukses.
Seandainya diceritakan di bab sebelumnya, Aro membuka internet membaca sosok pengusaha, atau melihat tayangan adanya sosok pengusaha, tentu bayangan Aro untuk menjadi pengusaha akan semakin kuat. Apalagi jika salah seorang tamu yang diperkenalkan Pak Kepala Sekolah adalah seseorang yang Aro kenal. Misalnya, tamu di sekolah itu tetangga Aro tetapi berbeda kompleks perumahan. Biasanya, kan, pengusaha kaya terkenal akan kesuksesannya.
Keluar dari hal tersebut, keseluruhan isi novel ini benar-benar mengejutkan. Kepolosan-kepolosan seorang anak tergambar dalam alur cerita dengan cara unik, mengejutkan, dan menggelikan.
Bayangkan saja, seorang anak lelaki memasang iklan, membuat pengumuman dalam kertas berwarna jingga dengan tulisan tangan warna metalik. Menempelkannya di beberapa tempat. Semua pelamar yang datang ke rumah Aro, menolak tawaran kerja dari Aro dengan alasan yang sama. Gajinya dibayar pakai donat.
Lantas, bagaimana kelanjutannya?
Jalinan cerita yang padu, jelasnya penggambaran beberapa tempat sebagai latar cerita, alur yang berliku, kaitan antara penggunaan internet dan blog dalam proses pembelajaran, penyelesaian konflik oleh tokoh dengan cara tak terduga, benar-benar membuat novel ini menjadi bacaan yang berkesan. Apalagi ada “Pesan Aro” di setiap akhir bab.
Semoga dari bacaan berkualitas, lahirlah generasi bertakwa, kreatif, mandiri, dan berkarakter bangsa lainnya. Selamat ulang tahun dan sukses selalu FPBA.

Resensi ini untuk diikutkan di lomba :


Forum Penulis Bacaan Anak



Rabu, 22 Mei 2013

Resensi K-Novel Gomawoyo, Chef!



Judul: Gomawoyo, Chef!
Genre: Novel Anak (Setting Korea)
Penulis: Dian Onasis
Ilustrasi isi & Desain isi: Nisa Nafisah
Ilustrasi sampul: Margaretta Devi
Penyunting naskah: Moemoe
Penyunting ilustrasi & Desain sampul: Kulniya Sally
Proofreader: Rani Setiani P.
Penerbit : DAR! Mizan
Tahun: 2012
Jumlah: 98 halaman

Kover K-Novel ini membuat saya jatuh hati. Selain tampilannya menarik, judul pun membuat penasaran, apa arti dan maksud Gomawoyo, Chef!?
Kebiasaan saya ketika memiliki novel baru adalah membuka bab yang menjadi judul terlebih dahulu. Karena saya ingin tahu, mengapa bab tersebut dijadikan judul novel?
Di bagian isi buku sebagai gambaran awal, halaman 4-5 novel ini, saya membaca delapan judul per bab berbahasa Inggris. Namun, tidak ada judul Gomawoyo, Chef!
Mana bahasa Koreanya?  
Sebelum membaca K-Novel Gomawoyo, Chef!, saya sudah membaca K-Novel sejenis, Saranghae, Bluemoon. Penerbit dan tahun yang sama.
Dalam K-Novel Saranghae, Bluemoon, saya menemukan bab yang menjadi judul keseluruhan isi novel. Halaman 94-103 sebagai penutup cerita yang manis. Bahkan, menyisipkan bahasa Korea dalam percakapan. Disertai penjelasan menggunakan catatan kaki.
Berbeda ketika membaca keseluruhan K-Novel Gomawoyo, Chef!. Saya seakan berkendara melalui jalan tol. Pemandangan terbatas sepanjang penglihatan. Tidak ada sisipan bahasa Korea, seperti dalam K-Novel Saranghae, Bluemoon.
Bahkan, arti gomawoyo pun saya dapat dari teman FLP dan internet. Gomawoyo adalah ucapan terima kasih kepada orang yang seumur atau lebih muda yang kita hormati. Bahasa Korea memiliki perbedaan dalam penggunaan, tingkatan yang berhubungan dengan kesantunan dan kelas sosial.
Jadi, tidak ada salahnya, kan, menyisipkan bahasa asing asal pembuatan K-Novel? Penyisipan bahasa asing asal pembuatan novel ini, tentu akan memperkaya kosakata bahasa asing, menambah pengetahuan, memperkuat atmosfer dalam naskah dan suasana batin pembaca. Apalagi, dua tokoh novel ini berusia sepuluh tahun dan sebelas tahun.
Di luar itu semua, penulis berhasil merepresentasikan tokoh Kim Ji Mi dengan dialog dan monolog. Pembuka cerita yang menarik. Penggambaran setting tempat dengan  jelas, dan konflik bertema keluarga dengan sebab akibat yang jelas hingga penyelesaian.
Namun, ada hal yang terkesan aneh dan memaksa setelah profil penulis. Halaman 90-98 masih ada cerita, Eoni Sheena Wanna Be. Ceritanya sama sekali tidak berhubungan dengan keseluruhan K-Novel Gomawoyo, Chef! Apakah hal tersebut sebagai bonus, atau untuk memenuhi jumlah halaman tertentu? Karena berbeda sekali antara jumlah halaman Saranghae, Bluemoon sebanyak 103 halaman, sedangkan K-Novel Gomawoyo, Chef! sebanyak 98 halaman+cerita Eoni Sheena Wanna Be.
Penasaran? Silakan baca novel-novelnya.



Resensi ini untuk mengikuti lomba yang diadakan oleh:

Forum Penulis Bacaan Anak



 *Pantun maksa (bukan bagian dari resensi)*

Dua tas Bayu berwarna jingga
Dalam ransel punya Papa
Meriahkan pesta awug ultah FPBA
Kembangkan kreativitas tanpa batas

Optimalisasi Omset Melalui Aplikasi Pembukuan Canggih Accurate

Perkembangan dunia bisnis saat ini terasa begitu pesat. Makanya ketika ada acara Coconut Indonesia, Digital Breakfast #5, Coconut X Accura...