Senin, 24 Maret 2014

Tari Bunga Siswi SLB B Sukapura



https://www.youtube.com/watch?v=UVQbxs2iTek&feature=youtu.be



Mereka memiliki hambatan pendengaran, dalam bahasa lain ada yang menyebutnya tunarungu. Namun, ketika mereka tampil menarikan tarian bunga, menjadi pengisi acara, memeriahkan kegiatan sekolah lain, mereka memang luar biasa keren. Membuat penonton berkaca-kaca dan terkagum-kagum dengan keselarasan dan kepaduan mereka. Padahal, waktu latihan banyak sekali kendala dari siswi-siswi tersebut.
Begitu mereka duduk bersama menyaksikan tayangan ini, saya suka dengan percakapan mereka. Lahir diskusi spontan di antara mereka. Tidak ada yang saling menyalahkan atau menyedutkan seseorang di antara mereka.
Inilah percakapan yang saya tangkap saat mereka berkumpul: "Kalau hiasan kita menari ada yang jatuh, salah kalau kita ambil. Tapi, kita harus terus menari."
"Saya suka gerakan ini, kita semua sama." (gerakan membuka seperti bunga mekar), dll.
Secara pribadi saya yakin mereka belum mengerti Wiraga,Wirama,Wirasa,dan Wirupa. Tapi mereka sudah mempraktikkannya dalam tarian secara tidak langsung.
- Wiraga: peragaan atau sikap dan gerak dari seluruh anggota tubuh. =) Mereka menampilkan keterampilan gerak dan tari sesuai arahan pembimbing, Pak Dadan. Meski tampak ada yang bingung bagaimana gerakan lanjutannya, bahkan tampak ada sedikit "diskusi" ketika menari tapi mereka berusaha mengikuti gerakan teman lainnya yang sudah lebih menguasai gerakan tarian.
- Wirama: ketukan / irama dan dinamika perpindahan sikap gerak yang selaras dalam tari. =) Sudah sesuai seperti yang diarahkan. Mereka mampu membedakan frase-frase yang menjadi bagian pokok dalam musik tarian.
Wirasa: ekspresi raut muka /mimik yang menggambarkan karakter tarian. =) Nah, bagian ini yang mendapat sorotan kita. Setiap latihan kita sudah mengarahkan anak ketika menari untuk senyum. Tetap ada saja ketika menari yang tampak tegang hingga kelihatan berwajah datar. Namun, terlihat jelas kalau siswa tersebut berusaha menghayati gerak sesuai dengan tuntutan tari.
-Wirupa (performers): penampilan penari dari ujung atas sampai ujung bawah. =) berbekal seragam sekolah, hiasan dedaunan dari alam, saya yakin penampilan mereka sudah mewakili bunga di alam. Mereka tampil alami. Layaknya bunga yang tumbuh dan berkembang secara alami.
Menakjubkan!
Intinya, ketika mereka tampil banyak keunikannya. Mereka tampil bukan untuk berkompetisi, tapi menilai seberapa jauh kemampuan.
Terus berkembang bunga-bunga SLB B Sukapura. Harum wangimu dan elok rupamu semoga kelak terus memberi warna cerah bagi nusa dan bangsa. Aamiin

Rabu, 19 Maret 2014

Mengamati Bunglon

Belajar Bersabar




Ini mungkin pertama kalinya saya merekam makhluk melata. Iseng banget mungkin orang akan berpikir. Namun, ntah mengapa terselip rasa suka. Saya suka menikmati momen ketika harus bersabar. Hingga saya bertanya-tanya dalam hati. Seberapa sabar para ilmuwan melakukan penelitian? Mereka pasti melakukannya lebih lama dari yang saya lakukan ketika mengamati bunglon ini.
Begitu melihat makhluk melata unik ini saya langsung tertarik untuk merekamnya. Setahu saya, bunglon ini pandai berkamuflase. Nah, saya ingin melihat perubahan bagaimana cara makhluk ini berubah rupa, sikap, warna, atau apapun untuk mengelabui makhluk lain.
 Sayangnya, ketika saya lewat makhluk melata  yang ada di salah satu kaca Wisma Waskita ini tampak panik, bergerak terus dengan cepat hendak ke atas. Perubahan sikap doang yang saya lihat. Sementara perubahan warna sama sekali tidak saya temui. Atau mungkin saya harus lebih jeli mengamatinya? :)
Begitu direkam, eh ini makhluk malah diam. Makin dekat makin terlihat mulut yang menganga. Apa tandanya? harus sering saya lihat rekamannya, tampaknya. Karena sama sekali makhluk ini tak menunjukkan tanda-tanda akan berubah maka saya terus merekam. Walhasil makhluk berekor panjang ini kembali bergerak-gerak ribut ketika saya hendak mengakhiri merekamnya. Kayak yang ngerti saja nih bunglon sudah waktunya saya masuk kelas, kembali menjadi pembelajar Diklat BKPBI di PPPPTK BMTI.
Menemukan makhluk ini, membuat saya berharap suatu saat nanti bisa melihat makhluk melata ini berkamuflase. Maklumlah, bunglon jarang saya temui. Kecuali tikus, banyaknya minta ampun. Kasihan tuh tikus, tempat tinggalnya sudah diambil manusia, eh manusia malah menyalahkan tikus sebagai pengganggu. (Heyya mulai ngaco). Kenyataannya sih memang demikian. Sawah, gunung, lahan kosong sekali pun kayaknya manusia senang banget menjadikannya bangunan. Ntah untuk apapun nantinya. Dan beberapa yang saya amati kemudian, setelah dibangun, banyak yang dibiarkan tak terurus.
Kembali pada topik di atas. Kesabaran memang sangat diperlukan dalam kehidupan. Apalagi  zaman super cepat seperti sekarang, istilahnya mungkin instan, level sabar dalam beberapa hal harus dinaikkan. Sabar ketika berada di kemacetan jalanan, sabar ketika kita “berbeda”, sabar ketika tidak mampu membeli gadget modern zaman sekarang yang super amat banyak jenisnya, dll.
Sebelum ngaconya makin parah, tulisan ini harus diakhiri dengan harapan secara pribadi semoga kita menjadi makhluk yang sabar dalam situasi apapun. 
Catatan: 20 Maret 2013 @Mekar Sari-Kiaracondong



Selasa, 18 Maret 2014

Susanti Hara Jv: Kunjungan ke SLBN Semarang Semarang

Susanti Hara Jv: Kunjungan ke SLBN Semarang Semarang: Kunjungan Januari ini secara pribadi sangat menarik. Saya menyaksikan jauhnya perbedaan keadaan di sekolah saya dengan SLBN Semarang. Ya, je...

Kunjungan ke SLBN Semarang Semarang

Kunjungan Januari ini secara pribadi sangat menarik. Saya menyaksikan jauhnya perbedaan keadaan di sekolah saya dengan SLBN Semarang. Ya, jelas toh. Di sana area gedung sekolah seperti menyatu dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah. Ada lobi ketika kita hendak masuk ke ruangan-ruangan terapi yang bertuliskan Dinas Provinsi Jawa Tengah. Jadi, ya kesan saya menyatu. Padahal, ntahlah karena saya sendiri tidak banyak bertanya mengenai hal tersebut.
Dari segi fasilitas, jauh sekali perbedaannya. Beuh, di SLBN Semarang mah serba lengkap. Gak percaya, buktikan sendiri!
Jauh? Amati saja foto-foto di sini. Pokoknya surga ABK tuh beneran. Top banget deh sekolah di bukit ini. Andai saya berkesempatan lebih lama di tempat ini, mungkin saya akan banyak bertanya, juga berinteraksi dengan penduduk setempat. Sayangnya waktu saya hanya beberapa jam. Dari pukul 09.00 WIB karena kita datang telat. Pukul 14.00 WIB kita sudah keluar gedung. Maklumlah kejar target karena ada tempat wisata yang ingin kita kunjungi. Yaitu... Lawang Sewu (Untuk isi blog berikutnya).

Cek foto-foto di SLBN Semarang ini ya!

Begitu kita kebelet ke toilet, kita langsung nyari-nyari. Dan sebelum masuk toilet, saya sempat foto orang tua siswa yang menunggui anaknya di depan kelas. Asyik ya jadi ibu-ibu yang sudah bebas tugas. Bisa ngerumpi tanpa terbebani pekerjaan rumah. Beuh, tapi awas kebablasan  ngomongin orang lain dan ujungnya ada yang sakit hati. :)
Pak Ciptono ketika memberikan sambutan
Rombongan dari Bandung, berjumlah lebih dari 100 orang dengan menggunakan bus pariwisata. Ayooo, perhatikan sambutan tuan rumah. :)
Begitu ada waktu keluar untuk pengenalan lingkungan SLBN Semarang, saya langsung berkeliling. Dari tempat ini nih, di bagian belakang menurut saya, terlihat perbukitan, sayangnya sudah banyak bangunan juga yang kulihat hingga pemandangan hijau terganggu. Timbul keresahan pula dalam hati, gimana nggak banyak bencana banjir kalau daya serapnya makin terus berkurang. :)

Di bagian belakang ini pula ada ruang tata busana, serta gedung pertemuan. Saya memang tidak banyak bertanya. Saya lebih banyak mengamati setiap bagian di sekolah ini beserta orang-orangnya daripada banyak bertanya. Ini nih penampakkan gedung yang saya amati juga.




Kunjungan terus berlanjut hingga ke tempat-tempat praktik siswa yang tampak sedang sibuk mengerjakan tugas mereka.

Tempat Cuci Motor






Bengkel motor


Di tempat ini anak-anak belajar membuat sekaligus menghaluskan tusuk sate. Dari sini saya belajar, "Pengalaman Langsung" memang lebih baik dari teori. Sering kali saya temui teori yang lain dari kenyataan di lapangan. Ada seorang anak yang menghaluskan tusuk sate dengan memasukkan ke dalam ban bekas kemudian menggilingnya dengan kaki. Keren ya. Ide sering datang tak terduga. :)




Di dapur ini kita mencicipi kerupuk buatan mereka. Masakan yang sedang diracik ini pun kata mereka untuk menjamu kita.
Bagian inilah yang paling menarik. Menyaksikan secara langsung pembuatan "Batik Cipratan". Batik tersebut sudah menjadi hak paten tersendiri bagi sekolah ini. Keren ya! Katanya pengembangan batik ini berasal ketika seorang siswi autis tantrum memercikkan malam -bahan pembuat batik. Lalu muncullah ide dari seorang guru untuk menjyalurkannya. Beginilah kalau guru kreatif, "apapun adalah ide untuk mengembangkan potensi peserta didik". Pasti, tidak akan menyanggahnya, bukan?


Optimalisasi Omset Melalui Aplikasi Pembukuan Canggih Accurate

Perkembangan dunia bisnis saat ini terasa begitu pesat. Makanya ketika ada acara Coconut Indonesia, Digital Breakfast #5, Coconut X Accura...