Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2015

Cara Mudah Menulis Berita Ala Pepih Nugrah

Masih ada yang suka kesulitan atau memiliki hambatan ketika hendak menulis?Saya sering mengalaminya meski sebenarnya sudah sering terjun dalam dunia menulis. Alhamdulillah termotivasi sekali ketika bertemu Kang Pepih dan mendapatkan ilmunya. Intinya menulis itu mudah. Misalnya saja menulis opini. Tulisan satu ini berawal dari apa yang kita pikirkan dengan melihat fakta. Intinya satu, menulis. Hal terpentingnya, semua ketakutan saya tidak beralasan. Hal ini saya sadari dari pertanyaan peserta lain ketika sesi tanya jawab. Padahal saya tidak mengungkapkan secara langsung kekhawatiran-kekhawatiran saya tersebut. Oh ternyata, bukan hanya saya saja yang memiliki kekhawatiran yang dianggap Kang Pepih kurang beralasan. Intinya, menulis ya menulis saja. Jika kelak ada yang komentar pedas, anggap saja latihan mental. Seketika itu saya sadar.  Saat kita membagikan tulisan kepada orang lain, maka akan mendapatkan timbal balik. Entah itu komentar positif maupun negatif. Tapi dari komentar itulah,…

Lembaran yang Menyatukan

Gambar
Mama tampak bingung, berulang kali membuka lembaran buku resep masakan di tangannya. Setahuku, Mama jago masak. Jadi, terasa janggal jika melihat Mama terdiam berlama-lama di depan buku resep masakan yang sudah hapal betul cara memasaknya. Apalagi, buku itu resep makanan kue kering.  “Mau bikin kue baru, Ma?” tanya saya, memulai pembicaraan agar Mama bisa lebih terbuka. “Minggu ini ada pengajian di rumah, Mama bingung mau menyuguhkan apa?” Jawaban Mama membuat saya tersenyum. Di sekitar tempat tinggal saya, ibu-ibunya memang sangat aktif. Apabila ada pengajian, tentu ingin menyuguhkan sesuatu yang menarik dan juga terasa enak dilidah. Lebih unik lagi,  kebiasaan berkeliling, bergantian mengirimkan bantuan untuk suguhan kudapan selesai pengajian. Minggu ini bukan pertama kalinya pengajian di rumah. Berdasarkan pengalaman, beberapa jam sebelum pengajian, teman-teman Mama pasti mengirimkan cemilan untuk menjadi suguhan di pengajian. Saya sampai hapal jenis makanan yang mereka kirimkan ke rum…

Kekayaan dan Kematian Bahasa Secara Alami

Beberapa hari lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk belajar mengenai puisi kepada ahlinya. Wiw, senang banget pastinya. Pada saat pembukaan acara yang bertempat di satu ruangan di Museum Sri Baduga, Bandung, tersebut, hal yang membuat saya merinding adalah pembahasan tentang kekayaan dan kematian bahasa secara alami. Dan begitu mudah sekali saya mencernanya dalam kehidupan nyata sehari-hari. Misalnya saja ketika berada di lingkungan anak remaja, tampaknya menggunakan bahasa gaul atau campur-campur Indonesia-English, atau menggunakan bahasa luar terasa lebih eksis bagi mereka. Padahal sebenarnya jika mereka menyadari betapa pentingnya menggunakan bahasa Indonesia dengan benar serta baik, tentu bahasa Indonesia tidak akan tenggelam di negerinya sendiri. Kekayaan bahasa Indonesia akan tetap terjaga secara alami.  Kematian bahasa secara alami dapat diakibatkan karena bahasa tersebut tidak berfungsi lagi. Lebih parah lagi apabila bahasa di masyarakat ini tidak terdokumentasi dengan baik…

Belajar Hingga Bisa

eorang teman, menawarkan pelatihan menulis dongeng kepada saya. Sayangnya, kondisi saya sedang disibukkan beberapa kegiatan sekolah sehingga saya tidak dapat mengikutinya. Saya pun bertanya kepadanya,”Memangnya kamu sudah ikutan?” “Kata seorang penulis senior, belajar itu jangan mentah. Tapi, harus sampai matang?” ungkapnya. “Lho?” “Iya, aku, kan habis ikut pelatihan menulis cerpen anak, jadi aku mau sampai berhasil dulu.” Well, ungkapannya benar. Secara tidak langsung,kita memang harus mempelajari segala sesuatu hingga matang. Maksudnya, hingga berhasil. Tetapi, ada juga mungkin orang seperti saya yang pada awalnya belajar bukan untuk bisa,tetapi untuk mengetahui ilmunya. Dengan pemiikiran bahwa kelak ilmu itu akan terpakai pada suatu waktu, meskipun saat itu saya belum menguasai ilmu yang sedang dipelajari. Mudahnya, dulu saya sama sekali tidak pernah terpikir akan memasuki dunia kepenulisan. Waktu SD, SMP, hingga SMK Kimia, nilai Bahasa Indonesia saya kurang bagus. Setiap kali uji…

Lapor Pajak Secara Online

Gambar
April 2015 saya dapat surat tagihan pajak. Isinya adalah sanksi administrasi denda pasal 7 KUP sebesar Rp100.000,00. Sempat terheran-heran, “Kok saya dapat surat denda ya?! Padahal sebelumnya saya pernah melaporkan diri.” Tertera tanggal penerbitan: 20 Maret 2015, dan jatuh temponya 19 April 2015. Sedangkan masa/ tahun pajak: 2012. Saya sempat membatin, apakah pekerja pajak ini lambat, atau memang peraturannya setelah sekian tahun baru ada panggilan denda tanpa peringatan sebelumnya untuk melapor, baru jika tidak melapor dalam waktu sekian hari dikenakan denda. Entahlah... Berhubung di sekolah, sesama rekan guru mendapat surat panggilan yang sama, akhirnya kita datang juga ke kantor pajak. Harus kami akui bahwa penuntasan denda ini cukup ribet. Setelah mengobrol dengan petugas, kami tidak bisa membayarnya di kantor pajak tetapi harus membayar di kantor pos, kemudian lapor kembali ke kantor pajak. Sebenarnya, saat mengobrol tentang penuntasan pajak dengan petugas, kami sempat meminta …