Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2014

Menua dengan Bahagia (Ketika Saya Bertanya Kepada Tunagrahita)

Sedih sekali ketika  mengunjungi sebuah sekolah luar biasa (SLB bagian C), sekolah khusus untuk tunagrahita. Berkesempatan melihat sebagian kondisi mereka, hati saya miris. Rasanya teriris.
DI saat senja biasanya kita merindukan berkumpul dengan keluarga. Hidup bahagia. Sedari muda memiliki banyak rencana untuk masa depan.
Berbeda jauh dengan mereka. Boro-boro memikirkan masa depan, apa yang mau dijawab ketika mendapat pertanyaan saja mereka bingung. Bahkan ada juga yang usia kalendernya sudah 50 tahun, namun usia mentalnya masih seperti bayi berusia 2 tahun.
Bagi yang tidak mengerti, mereka akan tampak aneh baik penampilan luar maupun ketika diajak berbicara. Dan video inilah rekaman saya ketika mengajukan pertanyaan kepada mereka.
Ups! salah bertanya, maka mereka akan bingung. Bahkan menjawab dengan asal.
Ayo, tingkatkan kepedulian terhadap mereka yang memiliki hak hidup yang layak seperti manusia pada umumnya.

Buat Aku Tersenyum - Lirik Lagu Sheila On Seven

Datanglah sayang, dan biarkan ku berbaring
Di pelukan mu, walaupun untuk sejenak
Usaplah dahiku, dan kan kukatakan semua

Bila ku lelah tetaplah di sini
Jangan tinggalkan aku sendiri
Bila kumarah biarkan ku bersandar
Jangan kau pergi untuk menghindar

Rasakan resahku, dan buat aku tersenyum
Dengan canda tawamu, walaupun untuk sekejap
Kerna hanya engkaulah yang sanggup redakan aku

Kerna engkaulah satu-satunya untukku
Dan pastikan kita selalu bersama
Kerna dirimulah yang sanggup mengerti aku
Dalam susah ataupun senang

Dapatkah engkau selalu menjagaku
Dan mampukan engkau pertahankanku



NB: Sering dengar lagu ini dari adik di kamar sebelah. Pada akhirnya ini lagu menginspirasi saya menulis novel untuk ikut lomba.

Permainan Lidah, Mengembang dan Mengempiskan Mulut

Setiap permainan, meski seseorang sudah mengarahkan biasanya ada saja yang keluar dari aturan. Namun, saya senang ketika melihat mereka tumbuh dan berkembang.
Waktu mereka kecil sering sekali saya lihat mereka sedang mempraktikkan bagaimana saya mengajar. Tak jarang pula mereka bermain peran sesuai dengan apa yang mereka lihat di sekitar lingkungan. Sayang jejak rekam mereka kecil hanya dalam ingata saya. Maklumlah, dulu saya tidak pernah kepikiran merekam mereka menggunakan kamera. Begitu sadar pentingnya jejak rekam masa lalu, tentu saja bukan untuk mengenang terus dalam ingatan. Tetapi lebih ke arah media pembelajaran kelak. Baik untuk evaluasi, maupun gambaran masa depan mereka.
Gambaran sekaligus pengingat untuk saya terus belajar. Mengembangkan berbagai aspek dalam kehidupan mereka, sehingga walau mereka memiliki hambatan pendengaran, tetap dapat "survive" di tengah orang-orang pada umumnya.