Belajar Hingga Bisa


eorang teman, menawarkan pelatihan menulis dongeng kepada saya. Sayangnya, kondisi saya sedang disibukkan beberapa kegiatan sekolah sehingga saya tidak dapat mengikutinya.
Saya pun bertanya kepadanya,”Memangnya kamu sudah ikutan?”
“Kata seorang penulis senior, belajar itu jangan mentah. Tapi, harus sampai matang?” ungkapnya.
“Lho?”
“Iya, aku, kan habis ikut pelatihan menulis cerpen anak, jadi aku mau sampai berhasil dulu.”
Well, ungkapannya benar. Secara tidak langsung,kita memang harus mempelajari segala sesuatu hingga matang. Maksudnya, hingga berhasil. Tetapi, ada juga mungkin orang seperti saya yang pada awalnya belajar bukan untuk bisa,tetapi untuk mengetahui ilmunya. Dengan pemiikiran bahwa kelak ilmu itu akan terpakai pada suatu waktu, meskipun saat itu saya belum menguasai ilmu yang sedang dipelajari.
Mudahnya, dulu saya sama sekali tidak pernah terpikir akan memasuki dunia kepenulisan. Waktu SD, SMP, hingga SMK Kimia, nilai Bahasa Indonesia saya kurang bagus. Setiap kali ujian, pasti saya merasa panik karena bingung harus menjawab apa. Saya lebih tertarik dengan matematika atau Ilmu Pengetahuan Alam.
Namun kenyataannya, kini saya berada di dunia yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Dunia pendidikan dan dunia kepenulisan. Dua-duanya membuat saya tercengang. Saya menikmati ketika berinteraksi dengan anak-anak. Dan sekarang saya menikmati betul dunia kata, walaupun pada awalnya kepala saya terasa pening.
Intinya, saat dulu sekolah saya belajar masih dalam keadaan mentah. Seiring perjalanan waktu, pengetahuan, dan juga kondisi lingkungan, semua ilmu di masa lalu dalam pelajaran Bahasa Indonesia terpakai bahkan terasa makin bertambah.
Jika dahulu saya kurang peduli terhadap semua pelajaran penting tersebut, kini semua terasa banyak gunanya. Dahulu saya sering mengeluh tentang pelajaran Bahasa, kini seiring berjalannya waktu justru ilmu itu bisa dikuasai dengan latihan demi latihan secara langsung.
Bagi saya secara pribadi, bisa dianalogikan pematangan ilmu itu seperti mematangkan buah. Unik dan juga bisa dilakukan dengan berbagai cara. Baik itu matang dari pohon, proses reaksi kimia, maupun proses reaksi fisika.
Tidak setiap buah harus matang di pohonnya. Malah kalau mengamati lingkungan April 2015 ini, pohon jambu di sekolah, tempat saya mengajar, apabila buah matang dari pohon banyak sekali bahayanya.
Kita sudah berharap jambu berlimpah, eh malah dimakan kalong. Keesokannya, kita terbengong-bengong menyaksikan jambu berserakan di atas tanah penuh gigitan kalong. Atau juga ada yang mengambil dari pohonnya.
Well, mungkin jambu itu sudah tidak bisa dimakan lagi, tapi tentunya kalau dibiarkan jambu itu bisa jadi humus menyatu dengan tanah di alam. Mengamati hal ini, saya yakin banget tidak ada yang sia-sia di bumi ini.
Sejujurnya, saya senang mengikuti berbagai pelatihan. Meskipun tujuannya hanya untuk sekedar tahu. Meskipun demikian, saya tetap aktif mengikuti semua kegiatan, dan juga sportif mengumpulkan tugas.
OK-lah ilmunya memang tidak akan saya pakai, tetapi saya yakin tersimpan di dalam memori jangka panjang. Maka, ketika saya membutuhkan, saya bisa memanggilnya kembali dengan mengingat, melihat catatan, atau membuka album galeri foto di HP, atau juga membuka file tugas yang usai dikerjakan.
Jadi, bagi saya sendiri, belajar sampai matang merupakan proses panjang. Tidak harus saat itu mampu menguasai. Bisa jadi ketika sudah sekian lama kita tidak mengingat ilmu dari pelatihan, tiba-tiba ilmu itu terpakai. Seperti pelajaran bahasa Indonesia setelah melewati berbagai jenjang pendidikan, bisa dibilang biasa saja malah kurang. Justru setelah sekian lama keluar dari sekolah formal, seiring berjalannya waktu, timbul keajaiban demi keajaiban. Pelajaran Sekolah Dasar sekalipun penting banget.
Pelatihan apapun bagi saya adalah sumber ilmu. Apapun jenisnya selalu ada hal menarik. Apalagi sekarang zaman blog, tempat di mana kita bisa berbagi informasi. Dan, tanpa kita ketahui banyak sekali pelajar, atau orang yang berkepentingan membutuhkan informasi yang kita posting di blog.
So, kalau ada kesempatan, jangan sia-siakan. Ikuti semua pelatihan dengan antusias dan kembangkan ilmunya dengan berbagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengirim Tulisan ke Harian Pikiran Rakyat

UNGKAPAN SALAM DALAM BAHASA KOREA I ( 인사 표현 )