Cara Mudah Menulis Berita Ala Pepih Nugrah



Masih ada yang suka kesulitan atau memiliki hambatan ketika hendak menulis?Saya sering mengalaminya meski sebenarnya sudah sering terjun dalam dunia menulis. Alhamdulillah termotivasi sekali ketika bertemu Kang Pepih dan mendapatkan ilmunya.
Intinya menulis itu mudah. Misalnya saja menulis opini. Tulisan satu ini berawal dari apa yang kita pikirkan dengan melihat fakta. Intinya satu, menulis.
Hal terpentingnya, semua ketakutan saya tidak beralasan. Hal ini saya sadari dari pertanyaan peserta lain ketika sesi tanya jawab. Padahal saya tidak mengungkapkan secara langsung kekhawatiran-kekhawatiran saya tersebut.
Oh ternyata, bukan hanya saya saja yang memiliki kekhawatiran yang dianggap Kang Pepih kurang beralasan. Intinya, menulis ya menulis saja. Jika kelak ada yang komentar pedas, anggap saja latihan mental.
Seketika itu saya sadar.  Saat kita membagikan tulisan kepada orang lain, maka akan mendapatkan timbal balik. Entah itu komentar positif maupun negatif. Tapi dari komentar itulah, kekuatan mental makin terlatih serta tulisan pun ikut terasah makin bagus.
Menulis itu never ending latihan.
Sebelumnya tidak pernah terbayangkan akan mendapatkan ilmu mengenai pendekatan dalam menulis berita. Ilmu itu langsung saya dapat dari Mahaguru, pendiri Kompasiana. Bahkan ilmu berupa pengalaman Kang Pepih selama malang melintang dalam dunia kepenulisan ini belum dibukukan. Tapi sudah dibagikan kepada Kompasianer di Bandung. Keren banget penuh rasa syukur bisa datang dan mendapatkan ilmu berharga.
Pendekatan dalam menulis berita ala Kang Pepih sangat mudah dipahami dan juga dipraktikkan. Misalkan kita memotret satu objek, kita bisa memotret dari atas maka akan mendapatkan gambar kepala. Memotret dari samping, tentu akan mendapatkan gambar wajah atau hidung.
Meski sebenarnya pendekatan menulis ada banyak, namun Kang Pepih membatasi dan menjelaskan secara gamblang mengenai 5 pendekatan dalam menulis berita. Bahkan uniknya, kelima pendekatan ini tidak harus untuk menulis berita saja. Mau menulis catatan harian, laporan, fiksi, atau apapun jenisnya, pendekatan ini tetap dapat dipakai dari sisi kepenulisan.

(Pepih Nugraha sedang menjelaskan 5 pendekatan menulis berita)
Lima pendekatan dalam menulis  berita menurut Pepih Nugraha:
  1. Faktual
Menulis faktual hanya fakta-fakta yang kita ceritakan. Tentu hal ini mudah karena di mana pun kita akan menemukan fakta. Keunikannya, fakta yang dialami setiap orang pasti akan berbeda-beda hingga menjadi tulisan beragam dan berisi informasi berbeda.
Ketika kita menulis fakta tentu berdasarkan apa yang kita saksikan atau bisa juga wawancara.
Karena ada peristiwa maka tulisan muncul berdasarkan kenyataan yang terjadi. Misalnya berita mengenai Pesawat Malaysia Airlines #MH17 jatuh di Ukraina yang dimuat di KOMPAS.COM.
Berita tersebut memuat fakta pesawat Malaysia jatuh di Ukraina. Fakta kecelakaan. Secara sederhananya seperti itu sebagai acuan menulis berita paling pertama. Orang kalau tidak ada fakta tidak akan tahu.
Apa yang kita lihat, alami, atau bertanya kepada saksi mata di tempat berita merupakan tulisan faktual. Bisa saja tulisan itu dikutip dari kantor berita.
Catatan harian merupakan satu cara efektif untuk belajar merekam fakta. Dalam cerita kehidupan sangat banyak fakta yang bisa dijadikan tulisan. Bahkan bisa jadi suatu saat ketika tulisan itu kita baca lagi, kita terbawa hanyut dalam kenangan cerita tulisan, padahal kejadiannya sudah lama terlewati. 
  1. Praktikal
Hal-hal praktis. Misalnya peristiwanya sama kecelakaan. Yang tadi sifanya factual, kemudian digabungkan dengan pendapat kita atau sumber lain mengenai hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Tulisan praktikal berisi mengajak pembaca.
Contoh: fakta di sekitar lampu lalu lintas Dago sering terjadi penodongan pada saat lampu merah menyala. Diberitakan seorang ibu korban penodongan.
Tuliskan, hati hati ya, atau ibu-ibu harus hati hati pada saat di traffic light Dago. Bagusnya pelan pelan dulu mengendarai kendaraannya menjelang lampu merah. Atau memberikan saran, lebih baik lewat jalan lain atau jam lain, atau jangan melewati jalan itu pada jam-jam tertentu.
Tulisan praktikal memberi pedoman, pemahaman, serta pengetahuan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Dan tulisan yang baik tentu akan mengarahkan pada hal-hal yang baik.
  1. Intelektual
Tulisan intelektual memberikan pengetahuan kepada pembaca dari apa yang kita tahu dan belum tahu. Kalau belum tahu informasinya, maka cari tahu kalau belum tahu.
Jangan sampai niat kita memberi tahu kepada orang lain terhambat karena alasan tidak tahu bagaimana memberi tahunya.
Tulisan ini memberikan pemahaman untuk jawaban mengapa suatu peristiwa terjadi. Hingga pembaca dapat mengambil intisari tulisan dan menemukan jawabannya.
Tugas penulis memberitahukan pembacanya, “ini loh berita dan isinya.
Misalnya kasus penembakan suatu rudal yang menghancurkan ratusan orang. Ternyata mereka menembak ada motivasi untuk menjual rudal, bukan sekedar membuat suasana dunia menjadi panas.
Bisa juga tulisan intelektual ini memberikan pemahaman kepada pembaca, memberikan opini, atau bagaimana mengatasi kemacetan kepada pembaca.
Misalnya; pengetahuaan macet. Di Bandung mobil bertambah sedangkan jalan tidak tambah. Mobil di Bandung kebanyakan berplat B, asal Jakarta. Kira-kira banyak mobil di Bandung ini merugikan atau menguntungkan?
Berikan pemahaman mengenai hal tersebut. Bisa dari kita melalui  pengalaman langsung, narasumber, membaca buku atau berita.
  1. Emosional
Penulis paling banyak menggunakan pendekatan emosional. Fiksi dari cerita pendek sampai novel itu pendekatan emosional.
Tulisan berjenis emosional ini paling banyak dibaca orang. Pendekatan emosional bisa menuliskan tentang orang lain.
Misalnya saja tulisan mengenai seorang Bapak menggendong anaknya memakai gerobak, padahal anaknya sudah meninggal. Bapak tersebut ingin menguburkan anaknya tetapi tidak punya biaya. Dia bingung mau menguburkan di mana. Naik kereta api di tolak karena tidak boleh bawa mayat.
Peristiwa tersebut mengajak pembaca memahami pengalaman emosional orang lain. Dan pembaca pun mengalami emosi (kesedihan) yang sama dengan penulis atau Bapak yang menggendong anaknya memakai gerobak. Hingga hati siapa pun tergerak untuk membantu.
  1. Spiritual
Pendekatan menulis berita spiritual merupakan sebuah pendekatan yang mengajak orang lain jangan sampai lemah, untuk membangkitkan semangat bergerak, tidak boleh terpuruk walaupun dalam kesedihan.
Kita bisa belajar dari lilin. Di tempat terang, cahayanya tidak seberapa menerangi. Tapi ketika di bawa ke dalam gua gelap gulita, daya terangnya bisa menerangi gua yang gelap.
Setelah membaca perbandingan dari lilin dan kisah yang berhubungan dengan lilin tersebut, diharapkan dapat meningkatkan gairah orang-orang yang membaca.
Contoh lain; perbandingan bintang-bintang di langit yang menyimpan keindahan. Pada saat gelap gulita kerlipnya memunculkan keindahan, meskipun tidak menerangi bumi. Tapi cahaya yang diterbitkannnya mampu menerangi jiwa yang sedang gelap. Pasti pesannya sampe.
Tulisan spiritual ini mengungkapkan hal-hal berisi semangat jiwa, hingga pesannya sampai kepada pembaca.
Untuk dapat menulis tulisan spritiual, tentu jiwa kita dulu yang harus diasah. Dekat dengan SangPencipta, kitabNya, rajin beribadah, dan membaca buku dan segala macam.
Tulisan seperti ini harus bisa melihat sisi baik dari kejadian yang ada. Bukan hanya mengungkapkan sisi buruknya saja.
Contoh sederhana di lingkungan sehari-hari. Orang sering menghujat air karena menyebabkan banjir. Tapi di belahan duni lain ada orang yang sangat mendambakan air. Atau bisa juga kita berkeluh kesah karena matahari terlalu terik. Sementara di Eropa, sebagian besar penduduknya mendambakan matahari. Hingga saat summer, orang Eropa sengaja ke luar untuk berjemur.
Intinya, ketika menuliskan tulisan spiritual, kita harus bisa mengosongkan hati dari segala keburukan dan baru mengisinya dengan hal-hal kebaikan. Jangan sampai ketika menulis menggunakan pendekatan spiritual hati kita iri atau dengki. Karena tidak mungkin kebaikan dicampur dengan keburukan. Kemungkinan nanti campur aduk isinya hingga tulisan tidak akan bagus.
Maka, menulis menggunakan pendekatan spiritual harus bisa menjaga keseimbangan hati, jangan menghukum tetapi lebih memberikan solusi atau pemecahan masalah untuk membangkitkan gairah kehidupan orang lain.
Demikianlah 5 pendekatan menulis berita dari Kang Pepih Nugraha. Dari 5 pendekatan ini, masih ada beberapa hal yang Kang Pepih sampaikan dan menjadi catatan tersendiri bagi saya. Selain itu saya jadi terinspirasi untuk menuliskan tulisan lainnya mengenai pengalaman dalam dunia kepenulisan. Tapi, mungkin dalam postingan lainnya.
Intinya, menulis itu mudah. Jangan pernah takut untuk menulis karena menulis itu proses latihan berkesinambungan. Terusah menulis untuk memberikan manfaat sekecil apapun kepada orang lain melalui media tulisan. Bahkan, melalui media tulisan, kemampuan kita terus berkembang, kekuatan mental makin kokoh karena sudah terbiasa mendapatkan kritikan dan juga berbagai masukan dari penulis lainnya. 
*Semoga bermanfaat*

Komentar

  1. Alhamdulillah dapat banyak ilmu..

    Suka dengan kalimat-kalimat
    "Tulisan yang baik tentu akan mengarahkan pada hal-hal yang baik."
    kemudian..

    "Untuk dapat menulis tulisan spritiual, tentu jiwa kita dulu yang harus diasah. Dekat dengan SangPencipta, kitabNya, rajin beribadah, dan membaca buku dan segala macam."

    Terima kasih sharing ilmunya^^

    BalasHapus
  2. Suka banget baca tulisan yang satu ini,, Secara tidak langsung lilin yang kecil juga mengajarkan kehidupan yang baik ya mbak :))

    BalasHapus
  3. Tips yang sangat bermanfaat. Tambah ilmu lagi.....

    BalasHapus
  4. Aku sangat menyukai tulisan yag tematik spiritual...menurutku secara tidak langsung telah membimbing diri kita menjadi lebih religius

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan tinggalkan jejak.
Akan saya respon secepatnya.
Terima kasih sudah berkunjung.

Postingan populer dari blog ini

Mengirim Tulisan ke Harian Pikiran Rakyat

UNGKAPAN SALAM DALAM BAHASA KOREA I ( 인사 표현 )