Kekayaan dan Kematian Bahasa Secara Alami


Beberapa hari lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk belajar mengenai puisi kepada ahlinya. Wiw, senang banget pastinya.
Pada saat pembukaan acara yang bertempat di satu ruangan di Museum Sri Baduga, Bandung, tersebut, hal yang membuat saya merinding adalah pembahasan tentang kekayaan dan kematian bahasa secara alami.
Dan begitu mudah sekali saya mencernanya dalam kehidupan nyata sehari-hari. Misalnya saja ketika berada di lingkungan anak remaja, tampaknya menggunakan bahasa gaul atau campur-campur Indonesia-English, atau menggunakan bahasa luar terasa lebih eksis bagi mereka. Padahal sebenarnya jika mereka menyadari betapa pentingnya menggunakan bahasa Indonesia dengan benar serta baik, tentu bahasa Indonesia tidak akan tenggelam di negerinya sendiri. Kekayaan bahasa Indonesia akan tetap terjaga secara alami. 
Kematian bahasa secara alami dapat diakibatkan karena bahasa tersebut tidak berfungsi lagi. Lebih parah lagi apabila bahasa di masyarakat ini tidak terdokumentasi dengan baik. Maka, kepedulian pemerintah pun tentu sangat diharapkan apabila bahasa di negerinya ingin tetap bertahan. 
Bahkan, berdasarkan informasi dari Kang Soni Farid Maulana, redaktur harian umum Pikiran Rakyat, diam-diam kekayaan sastra Indonesia, seperti sastra Melayu hampir semua terdokumentasikan di Malaysia. Mereka punya satu rencana membuat museum Naskah Nusantara. Suatu forum nusantara melayu raya yang mengumpulkan data kekayaan naskah melayu di berbagai negara, termasuk Perancis dan Rusia. Mereka sangat memperhatikan pelajaran melayu. Bahkan, kebutuhan bahasa disuplai sebagus mungkin.
Sayangnya, pemerintah kita kurang perhatian terhadap itu. Bisa jadi Indoneia Melayu akan menjadi Bahasa Asia Tenggara.
Hal ini tentu memerlukan perhatian khusus dari berbagai pihak. Lihat di sekolah-sekolah, seberapa banyak mereka mengetahui Amir Hamzah? Apakah mereka mengetahui dari guru? Tapi seberapa banyak karyanya diketahui?
Memperdalam karya Indonesia merupakan salah satu dari sekian alternatif. Apabila ditanya lebih jauh, apakah mereka mengenal Asrul Sani sebagai penullis puisi? Mungkin mereka tidak tahu, termasuk gurunya. Hal ini merupakan tragedi sastra Indonesia.
Jika dibiarkan terus menerus bukan tidak mungkin kekayaan bahasa akan menuju kepada kehancuran, bahkan kematian bahasa itu sendiri secara alami.
Semoga bermanfaat.

Komentar

  1. iya betul. pemerintah harus serius melihat ini ya...

    BalasHapus
  2. Semoga saja pemerintah bisa lebih serius. Terima kasih

    BalasHapus

Posting Komentar

Silakan tinggalkan jejak.
Akan saya respon secepatnya.
Terima kasih sudah berkunjung.

Postingan populer dari blog ini

UNGKAPAN SALAM DALAM BAHASA KOREA I ( 인사 표현 )

Mengirim Tulisan ke Harian Pikiran Rakyat