Kamis, 07 November 2019

Autis Oh Autis? Plus Tunarungu Pula (Cerita di Kelas Gue)

Yak!
Seumur hidup gue enggak pernah nyangka bakal dapat murid autis. Dulu itu di kampus yang terkenal se-Jakarta, gue enggak ngambil ilmu spesialisasi tentang autis. Yailah, waktu itu kayaknya belum ada deh. Gue itu tertarik dengan mereka yang tunarungu atau hambatan pendengaran, dan satu lagi gue tertarik dengan mereka yang berkesulitan belajar.
Walhasil, di sinilah gue sekarang, di tempat murid-murid tunarungu berada, eh maksudnya di tempat mereka bersekolah lho. Well, mengajar anak tunarungu itu enak banget lho. Pakai kalau ya, kalau sudah menguasai ilmunya.
Emang ada ya ilmu tentang tunarungu. Adalah, buat gue mengajar itu adalah seni kehidupan dalam bentuk, hmmm apa ya???? I can not really describe about it. Pokoknya mah menyenangkan.
Menyenangkan ketika tahu-tahu mereka itu sudah bisa baca, menyenangkan ketika mereka itu tahu-tahu sudah bisa berhitung, apalagi sampai bisa perkalian. Sebenarnya enggak ujug-ujug asal tahu-tahu sih, pasti adalah jalan prosesnya. Tapi ya itu panjang, yang intinya tahu-tahu mereka sudah bisa aja.
Hufth! Gue harus narik napas ya untuk semester sekarang ini. Di kelas gue mengajar sekarang, gue bukan cuma harus mendidik anak tunarungu, tapi ada juga seorang peserta didik yang memiliki dua hambatan sekaligus. Ya itu tuh kalau bahasa kerennya buat mereka mah double handicap. 
Kebayang enggak sih? Menangani mereka yang satu hambatan saja sudah luar biasa perjuangannya, apalagi harus menangani anak yang memiliki dua hambatan. Dan hambatannya itu autis.
Huuuh!
Ya kali kalau orang normal, bolehlah mengeluh setiap hari. Gue juga penginnya ngeluh sih. "Keseeel. Geram!. Gerah!"
Hari ini misalnya. Kalau anak normal atau anak tunarungu yang berhambatan pendengaran ngupil, mereka tentu tidak akan memasukkan upilnya ke dalam mulut.
Duh nih anak autis kayak sengaja menguji gue, seberapa sabar sih gue bisa menghadapi dia?
kalau harus jujur nih, gue pengin banget tuh anak ngertiin gue. Tapi yaelah, dia itu kayaknya enggak ngerti deh. Memasukkan upil ke mulut itu baru satu lho ya, masih banyak lainnya yang bikin gue geram pengin teriak, kesal.
Asli, gue itu kesal pengin dia berubah, bukan kesal karena harus ngadepin keanehan-keanehan dia
Peran gue sebagai guru seringkali jadi pertanyaan dalam diri sendiri. Seberapa benar sih gue ngajar nih anak? Seberapa berhasil sih gue ngajar nih anak?
Ok. Kali ini ada mahasiswa dari kampus di Bandung yang mengangkat tema, Be The Young Entrepreneur, kalau kalian lihat webnya itu hijau tosca, tapi tuh mahasiswa jurusan psikologi loh.
Unik sih karena ini pengalaman pertama dia berinteraksi langsung dengan anak autis.
Nih ya, satu dari sekian yang gue bikin kesal itu, nih anak datangnya telat mulu. Hari ini saat dia telat, ada sesuatu yang unik. Terus gue tanya ke mahasiswa tersebut, lihat ada sesuatu yang aneh enggak sama anak yang baru datang?
Nih mahasiswa bingung mengamati dari atas ke bawah dan dia tidak melihat keanehan. Dan ayahnya langsung menyulurkan tangan, membetulkan posisi rambut putrinya.
Yaps, buat gue, ada yang salah dengan murid perempuan berambut sebahu tersebut. Maksudnya itu ada sesuatu yang harus dibenahi, saat dia mengemut rambutnya bukan untuk dibiarkan begitu saja. Sebagai seorang pendidik, tugas gue untuk membantu nih anak berkembang lebih tepat. Misalnya saja, mengemut rambut bukanlah sesuatu yang benar. Bisa saja di rambut itu ada kuman, bakteri, atau virus yang dibawa selama dalam perjalanan dari rumah ke sekolah menggunakan kendaraan.
Jujur ya!
Gue cemas dengan masa depannya. Jadi gue sadar dari sekarang gue harus mendidik dia dengan tegas untuk membedakan mana baik, mana boleh, mana tidak boleh.
Sooooo❤ Wait my next story ya....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan jejak.
Akan saya respon secepatnya.
Terima kasih sudah berkunjung.

Autis Oh Autis? Plus Tunarungu Pula (Cerita di Kelas Gue)

Yak! Seumur hidup gue enggak pernah nyangka bakal dapat murid autis. Dulu itu di kampus yang terkenal se-Jakarta, gue enggak ngambil ilmu s...