Kamis, 10 Juli 2014

Terminal Cinta Laila


Judul                           :  Laila
Penulis                         : Abrar Rifai
Desain Sampul            : Izzudin Abdur Rahim
Penata teks                  : Ide Kreatif Crew
Penerbit                       : PT. Aksara Bermakna
Terbit                           : Cetakan 1, Agustus 2012
Tebal                           : 242 halaman: 13,3 X 20 cm
ISBN                           : 978-602-18755-0-6
Pada bagian kover depan tertulis endorsement dari Mbak Helvy. Tentu ini menjadi sesuatu yang sangat menarik. Apalagi di atas judul Laila tertulis jelas Novel inspiratif.
Laila adalah sebuah cerita yang akan membawa kita pada ketulusan cinta. (Helvy Tiana Rosa)
Begitu melihat kover seorang akhwat (perempuan) yang begitu teduh, harapan saya begitu tinggi kalau novel ini akan bercerita tentang perjuangan seorang akhwat. Apalagi di kover belakang terdapat 5 endorsement menakjubkan dari mereka yang sangat terkenal. Saya mengira novel ini akan mengisahkan perjalanan kehidupan Laila dari awal hingga akhir kisah.
Di bagian awal memang menceritakan Laila sebagai seorang pengamen. Melalui pemaparan ekspositoris penulis menguraikan tentang Laila.
Laila adalah salah satu anak jalanan yang terlahir karena hubungan bebas antara lelaki dan perempuan jalanan yang banyak terdapat di berbagai terminal di Surabaya. Gadis itu tak pernah tahu siapa ayahnya. Ibunya juga tak bisa memastikan siapa ayah Laila di antara lelaki yang pernah bergaul dengannya. Tak seorangpun dari mereka yang dikenalkan padanya oleh ibunya, mau mengakui Laila sebagai anak. Jadilah Laila dikenal sebagai anake wong akeh (anaknya banyak orang), anak yang tidak jelas bapaknya. – hal.3—
Saya benar-benar tergiring untuk tahu akan seperti apa alur cerita kehidupan Laila. Namun, begitu membaca bab per bab berikutnya, lebih banyak menceritakan keseharian Umar bersama keluarganya dan juga perkuliahannya. Terutama kegelisah Umar, seorang mahasiswa, putra pengusaha dari seorang ayah berlatar pendidikan pesantren.
Umar yang begitu mencintai Laila, ingin memperistrinya, meski Laila telah menolaknya, namun Umar yakin Laila sebenarnya mencintainya. Sayangnya Umar tidak dapat menghubungi Laila lagi. Umar berusaha mencarinya meski berbuah kekecewaan. Umar yang tadinya dikenal sebagai mahasiswa periang berubah jadi pemurung.
 Membaca keseluruhan novel ini seakan sedang menikmati sepiring gado-gado super lengkap. Semua cerita ada, tertuang dalam novel ini. Yang pasti bumbunya satu, cinta. (Eh, bisa ditambah perjuangan, istiqomah, dan lainnya supaya makin sedap). Saya seakan diajak berkeliling menikmati panasnya Surabaya lengkap dengan suasana keagamaannya.
Rangkaian cerita dalam novel ini terasa unik. Lompat-lompat menceritakan kebersamaan Umar dengan keluarga dan teman kampusnya. Ketika bersama Intan, adiknya, Umar adalah sosok yang selalu mengalah, menghindari perdebatan.
Ketika bersama Farah, kakaknya, Umar saling berbagi cerita. Sebagai penikmat bacaan saya suka sekali dengan kedekatan dan keterbukaan adik kakak yang sama-sama dewasa ini. Apalagi ketika Farah sedang ta’aruf dan salah paham kalau calon suaminya itu penganut poligami, Umar hadir sebagai tempat berbagi. Sampai-sampai kedua adik kakak ini ke Taman Safari di Prigen berdua untuk melepas penat.
Dalam kisah ini ayah mereka berpoligami. Meski awalnya Umar dan Farah menolak tidak secara terang-terangan, namun akhirnya mereka bisa menerima kehadiran Tante Salma, istri baru ayahnya saat petaka Tretes mendekatkan semua anggota keluarga. Intan yang sebenarnya anak yang baik terseret arus pergaulan yang menyimpang. Hingga bolos sekolah dan kabur.
Berdasarkan informasi yang mereka dapatkan, Intan bersama Khairul, temannnya, sekaligus Putra Pak Barjo, rival bisnis ayah Umar, Intan dan Khairul pergi ke sebuah villa besar milik Pak Barjo yang ada di Tretes. Tempat yang sekarang Pak Barjo tinggali. Sayangnya, Umar dan ayahnya tidak menemukan Intan di villa ini. Intan dan Khairul mengalami kecelakaan sepeda motor dalam perjalanan hingga Intan dan Khairul sama-sama dirawat di ICU. Intan geger otak berat.
(Tuh, kan, ceritanya lompat-lompat. hehe)
Sejak kejadian Petaka Tretes, Umar menjadi bos PT. Rembulan Terang menggantikan ayahnya. Intan yang memerlukan perhatian menjadi fokus utama ayahnya untuk merawat putrinya. Hingga menyerahkan perusahaan kepada Umar. Tentu saja dibantu oleh orang-orang kepercayaan ayahnya.
Sebagai seorang bos, Umar menggagas aksi sosial pertamanya. Dengan sponsor penuh perusahaannya, Umar mengadakan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) antar mahasiswa se-Indonesia. Umar menggandeng LDK-LDK semua kampus, baik negeri maupun swasta di Surabaya sebagai panitian pelaksana.
Dan dalam perhelatan inilah Umar bertemu Hidayah Nazilah Mahabbah, gadis dari Jombang, juara 1 tilawah. Suara hati Umar mendesaknya bahwa itu adalah Laila. Tapi, rasio akal tetap mengedankan realita bahwa gadis itu bukanlah Laila.
Kalau kamu mau memastikan ia Laila atau bukan, lihat saja saat penampilannya. Suaranya sama gak dengan Laila?” begitu nasihat Mas Ihsan ketika itu. –hal 173—
Mas Ihsan, sebagai kakak angkatan di kampus, sekaligus tempat berbagi cerita, dan ingin sekali Umar taarufkan dengan Farah, tentu saja tidak ingin Umar menanggung malu hanya karena menebak-nebak sesuatu yang tidak perlu.
Begitu Umar mendapat informasi selengkap-lengkapnya dari seorang akhwat yang pernah menyatakan cintanya kepada Umar, teman sekampus sekaligus jadi dosennya juga –Nurul, Umar mengetahui kalau Hidayah Nazilah Mahabbah adalah Laila. Umar berusaha menjemput cintanya ke Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang.
Selama 4 tahun menempa diri, Laila berhasil merevolusi diri dari sebelumnya pengamen, penghafal lagu-lagu cinta picisan kemudian menjadi penghafal Al-Quran.
Laila sudah hafal 25 juz lebih, Mar.” Nurul menceritakannya padaku saat pertemuan kami di kantin kemarin.
Saya jadi mikir, kayaknya judul Laila kurang pas sama isi ceritanya karena Laila cuma numpang lewat di bagian awal dan bagian menjelang akhir hingga akhir. :)
Namun, secara keseluruhan novel ini memang inspiratif. Kentalnya dunia keagamaan sebagai latar keseharian dunia penulis benar-benar terasa, kejutan demi kejutan dan logika cerita yang saling bersambungan membentuk alur cerita yang sulit ditebak ujungnya. Meski paling ujung sebagai ending tentu sudah banyak yang bisa menebak (kalau enggak sedih, ya bahagia. Dan penulis memilih ending tertutup yang bahagia.)
Dengan tema perjuangan mempertahankan cinta, penulis tidak terjebak pada ending biasa. Biasanya seorang anak yang lahir dari ketidakjelasan, ujungnya masuk ke dalam kehidupan tak jelas pula.
Novel ini justru menjelang akhir ceritanya cukup mengejutkan. Ya, meski penulis seakan baru membangunkan tokoh Laila menjelang akhir cerita. Laila ini jadinya seperti tokoh cerita yang sengaja ditidurkan sepanjang jalan cerita. Mirip kali ya kalau kita berangkat dari terminal masih melek, sepanjang perjalanan tertidur, tahu-tahu dibangunkan karena sudah sampai tujuan (maksudnya, tokoh Laila diceritakan di bagian awal, tengahnya tentang Umar berserta keluarga dan teman-temannya di Kampus. Begitu menjelang akhir, eh tahu-tahu Laila muncul lagi.)
Bagaimanapun, novel Laila ini memang bacaan yang menginspirasi dengan alur dan ceritanya yang unik dan menawan. Membuat saya tahu bebeberapa tempat di Surabaya, selain kekuatan penulis dalam menyampaikan pesan secara halus melalui cerita dalam tulisan.
_ Semoga bermanfaat _

(Resensi Ini Diikutkan dalam Lomba Indiva Readers Challenge (IRC) 2014

1 komentar:

  1. Bagi yang membaca, ada typo dalam tulisan ini.
    Entahlah mengapa tiba-tiba sulit untuk di-edit.
    Semoga tetap nyaman ketika membacanya.

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak.
Akan saya respon secepatnya.
Terima kasih sudah berkunjung.

Bersatu Memandirikan Anak Luar Biasa

  Sebelum adanya pandemi COVID-19, setiap hari Selasa, mulai pukul 11.00 WIB hingga selesai, peserta didik SLB B Sukapura kelas tinggi, sebu...