Menulis Cerita Anak Dari yang Terdekat

Artikel ini pernah dijadikan pengisi di Saung Penulis Grup Pena Nusantara di FB. Respon pembaca, alhamdulillah ada juga yang secara langsung menyampaikannya melalui lisan ketika berjumpa. Dan ada juga yang mengungkapkannya via inbox FB.


Cerita Anak Cerita Kita
Oleh Susanti Hara Jv

Dunia kanak-kanak kita, dunia yang penuh imajinasi. Sayangnya, makin beranjak dewasa dunia imajinasi pun perlahan terkikis logika. Hingga jalan pikiran yang masuk bernama logika ini lebih menguasai keseharian dengan pernyataan masuk akal atau tidak, maupun benar dan salah.
            Cerita anak yang kita tahu cukup luas, berkembang dari ide imajinasi maupun pengalaman penulisnya ketika masih kanak-kanak. Jadi, sebenarnya tidak ada alasan bagi seseorang untuk berkata, “Saya tidak bisa menulis cerita anak”. Toh, kita diberi akal pikiran, daya khayal, dan pengalaman masa kecil.
Dari pengalaman masa kecil setiap orang yang berbeda, tentu akan menghasilkan tulisan dan kesan berbeda pula. Perbedaan cerita pengalaman masa kecil inilah yang akan menjadi keunikan dan pembeda setiap tulisan cerita anak.
            Untuk mempermudah menulis cerita anak, mungkin ada baiknya kita mengenal beberapa hal:
1.    Bahasa atau kalimat dalam cerita anak haruslah sederhana dan mudah dimengerti. Sedewasa apapun penulis, harus “ikhlas” memasuki dunia anak dan menulis sesuai karakter dalam dunia anak-anak. Hingga anak-anak pun mudah memaknai apa yang dibacanya.
2.    Cerita Pendek (Cerpen) Anak yang sekali tuntas dibaca anak, tentu akan berbeda dengan novel anak yang berlembar-lembar. Menulis cerpen hanya ada satu masalah dan selesai dengan pemecahan masalah.
Sedangkan menulis novel anak, penulis harus cerdas menuangkan beberapa masalah ke dalam cerita dan menyelesaikannya dengan cara yang cergas. Meski akhir cerita dalam novel dibuat “menggantung” sekalipun untuk terus mengasah daya pikir si kecil.
3.    Ide atau tema cerita anak harus sesuai dengan anak-anak, meski mengangkat tema atau ide yang berhubungan dengan orang dewasa. Misalnya saja, perceraian kedua orangtua, harus dari sudut pandang anak.
4.    Konflik atau masalah dalam cerita harus ada penyelesaian sebagai bahan pembelajaran untuk anak.
5.    Kesan dalam cerita harus mendalam agar anak dapat memaknai cerita, merasakan adanya masalah hingga penyelesaian. Tanpa terasa mereka belajar pesan moral dalam cerita secara halus. Tanpa ada kesan cerita menggurui.
6.    Dalam cerita anak harus diusahakan menggunakan kalimat positif, paragraf pendek, kejelasan tokoh, tempat, dan deskripsi pendukung lainnya, agar anak dapat membayangkan dan masuk ke dalam cerita yang sedang dibacanya.
Seperti dalam film anak-anak yang begitu banyak tayang di televisi. Karakter, latar dan ceritanya sangat jelas hingga anak menyukai tayangan tersebut. Meski sebenarnya, orangtua harus hati-hati dan mendampingi anak ketika menonton agar tidak meniru hal-hal negatif, serta terus belajar mengambil hikmah positif tontonan yang dilihatnya.
7.    Cerita anak tidak hanya melulu cerita di sekitar keseharian mereka. Dunia mereka yang penuh imajinasi harus kita asah ke arah masa depan. Bukan hanya dengan fabel atau legenda, tetapi dengan cerita futuristik dan cerita misteri.
8.    Cerita futuristik yaitu cerita yang dipenuhi dengan khayalan masa depan. Tidak ada sihir, bukan raksasa di tengah hutan yang banyak menelan korban penduduk sekitarnya, tetapi makhluk asing dari planet lain yang dikenal anak sebagai alien, ataupun cerita yang berhubungan dengan masa depan lainnya.
9.    Cerita misteri, cerita yang mengandung sesuatu yang belum jelas, penuh dengan teka-teki, ada rahasia besar yang harus diungkap sehingga membuat pembaca penasaran.

Hal-hal tersebut mungkin akan dianggap sederhana. Ternyata menulis cerita anak tidaklah sesulit sangkaan kita. Cerita anak merupakan cerita kita di masa lalu. Cerita dimana seseorang belajar berbicara, berjalan, bergaul lebih luas dengan lingkungannya, serta memaknai kehidupan dengan sudut pandang kanak-kanaknya.
Diri kita sendirilah kunci menulis cerita anak. Kok bisa? Tentu saja. Kalau kita mau memasuki kepenulisan cerita anak, tetapi kita hanya diam saja tanpa melakukan apapun, tentu hanya menjadi khayalan belaka tanpa kerja nyata.
Jadi, mari kita bersama-sama menulis cerita anak dengan hati. Membuat cerita anak yang menginspirasi. Hingga menjejakkan pesan bagi anak dalam memengaruhi kehidupan positif mereka.

Semoga bemanfaat.
Salam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengirim Tulisan ke Harian Pikiran Rakyat

UNGKAPAN SALAM DALAM BAHASA KOREA I ( 인사 표현 )